Friends

Keblinger

Keblinger

WHO AM I ?

 WHO AM I ???
Penulis : Melati Merah Marun

Dalam keadaan sakratul maut, Si Fulan tiba-tiba merasa dirinya berada di depan sebuah pintu gerbang langit. Dan diketuknya pintu gerbang langit.
“Siapa di situ?” ada suara dari dalam.
Lalu Si Fulan menjawab, “Saya, Tuan.”
“Siapa kamu?” “Fulan, Tuan.”
“Apakah itu namamu?” “Benar, Tuan.” 
“Aku tidak bertanya namamu. Aku bertanya siapa kamu.”
“Saya Fulan Bin Fulan”
“Aku tidak bertanya kamu anak siapa. Aku bertanya siapa kamu.” “Saya seorang pejuang” “Aku tidak menanyakan pekerjaanmu. Aku bertanya siapa kamu?” “Saya seorang Muslim, pengikut Rasulullah SAW.”
 “Aku tidak menanyakan agamamu. Aku bertanya siapa kamu.” “Saya ini manusia. Saya setiap hari sholat lima waktu dan saya suka kasih sedekah. Setiap Ramadhon saya juga puasa dan bayar zakat.”
 “Aku tidak menanyakan jenismu, atau perbuatanmu. Aku bertanya siapa kamu.” Fulan tidak bisa menjawab. Ia berbalik dari pintu gerbang langit, gagal masuk kedalamnya karena tidak mengenal siapa dirinya. Ada kalimat yang agung mengatakan, “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”. “Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu”.
            Oh my God! Bagaimana jika ilustrasi di atas ternyata benar terjadi saat manusia sakaratul maut, saya yakin akan banyak sekali manusia yang gagal masuk ke dalam, karena saat sang Tuan rumah bertanya siapa kah gerangan yang datang, ia tak mampu menjawab, ya jelas tuan rumah tak akan membukakan pintunya, akhirnya dia pulang dan PASTI kebingungan, ia harus kemana, sebab jatahnya hidup di dunia telah usai. Raganya tak mungkin menerimanya lagi, rumah dan keluarganya tak kan mampu menjadi tempat pulang seperti biasanya. Allahuakabar, saya pun sangat bingung dan takut, karena suatu saat waktu ini akan benar-benar datang untuk menghentikan petualngan ku di tempat yang fana ini. Bagaimana jika saat itu tiba saya masih tidak tau siapa saya? Saya tak bisa membayangkannya. Apa saya masih bisa menangis? Berteriak? Atau bercerita pada ayah, ibu, keluarag dan teman dekat, seperti jika saya bingung atau ketakutan sewaktu ditengah petualangan saya? Inilah ketakutan dan kehawatiran yang saya rasakan sejak pertama jari saya mulai menari di atas keyboard untuk menulis komentar terhadap ilustrasi di atas.
            Sebuah pertanyaan simpel, sangat sederhana dan bahkan terkesan bodoh untuk ditanyakan, namun SANGAT susah untuk dijawab. Ya, inilah soal paling sederhana yang sering saya dengar namun hingga detik saya menulis ini saya tak tau jawaban yang tepat. “Siapa saya?” hanya 2 kata, namun perlu ratusan referensi yang harus dibaca, butuh waktu yang lama serta pemikiran yang sangat dalam untuk memikirkan jawabannya. Saya SANGAT yakin kok, bukan hanya saya yang kesulitan menjawab pertanyaan ini. Malam ini, sebelum menulis esai ini, saya berkumpul dengan teman satu kelas saya sambil bakar jagung dalam rangka melepas seorang teman saya yang akan ke Thailand menunaikan tugas dari kampus (wow, dia luar biasa yah). Saya teringat esai yang harus saya selesaikan, dengan tema yang menurut saya sangat sulit. Saya iseng dan coba bertanya pada beberapa teman saya “kamu siapa?” ada yang hanya menngangkat bahunya tanda tak mau meberi komentar, lalu ada yang bilang “saya mahasiswa”, “saya seorang gadis kecil yang manis dan suka warna pink (padahal dia udah mahasiswa keleessss),” saya adalah wanita cantik yang....”, “saya anak mama sama ayah” lalu ada jawaban yang membuat saya mulai berpikir lebih dalam “saya adalah insan yang diciptakan Allah SWT”, “saya adalah makhluk yang berasal dari tanah dan memiliki sifat tanah, mkanya saya gak pants bersifat langit”, wew, filsafat banget jawabannya.

            Lalu bagaimana dengan jawaban saya? Hingga huruf terkahir yang saya tulis ini saya masih tidak tau siapa saya. Yang saya tau, saya bagaikan daun kering yang terbawa angin, meski tak dapat melihat angin itu, tapi sang daun mampu merasakan energinya yang kuat, yang mampu membawanya kemanapun ia ingin. Meski tak pernah melihat bagaimana angin itu wujudnya, namun sang daun dapat merasaka bahwa angin itu ada. Angin itulah yang menentukan kemana arah daun kering akan melayang. Kadang saya juga berpikir, saya tak ubahnya seperti seorang aktris yang sedang memainkan perannya. Ada sutradara yang sudah menuliskan akan berperan sebagai siapa saya, bagaimana karakter saya, bagaimana jalan cerita hidup saya, dan seperti apa saya berakhir, yang semua itu telah ditulisnya dalam skenarionya. Saya hanya harus berperan sebaik mungkin, melakoni peran saya seapik yang saya bisa, mengikuti alur cerita yang telah dibuatnya, tanpa harus mengeluh apalagi mampu merubahnya. Karena Dialah yang menulis skripnya. Saya juga membayangkan bahwa saya adalah seorang petualang yang diberi tanggungjawab untuk berkelana hingga batas waktu yang telah ditentukan, diberi bekal yang luar biasa (peta berupa Al-Quran dan Hadits, payung berupa akal, makanan berupa nafsu dan keinginan, serta segala Rahman-Nya), saat pulang saya akan diberi hadiah jika selama perjalanan saya mampu menempuh jalan sesuai petunjuk peta yang telah diberi-Nya dan membawa banyak pahala dan mampu membuat Dia yang memberi saya bekal Ridho, namun saya akan mendapatkan hukuman jika ternyata yang saya tempuh adalah jalan yang tidak sesuai dengan peta tersebut hingga yang saya bawa pulang hanya dosa dan akhirnya membuat Dia marah. Oleh sebab itu, saya harus berhati-hati dalam menempuh petualangan ini, saya harus mampu mencapai tujuan pada waktu yang tepat (kematian) yang hanya mungkin didapat melalui jalan yang tepat (sesuai peta saya). Saya juga tak ubahnya bagai garam dilautan, Nama-wujud-sifat-gerak-ilmu-semuanya, bukan garam melainkan laut itu sendiri. "Inna rabbaka ahad - Sesungguhnya Tuhanmu meliputi segala manusia[1]" [1] QS. Al Israa': 60. Saya bernama manusia, bersifat manusia, memiliki ilmu, namun sebenarnya sebutan saya bukanlah manusia, entahlah apa.

            Dari semua inilah saya merasa bahwa saya adalah bukan siapa-siapa, saya tidak akan terbawa kemanapun tanpa angin (Allah) yang membawanya, saya tidak akan ada jika sang sutradara (Allah) tidak menulis peran saya, saya hanyalah bagian dari garam dilautan yang meski nama saya ada, wujud saya sebenarnya ada, sifat, gerak, ilmu dan semua yang ada pada saya ada, namun tetap saja orang menyebutnya lautan.Tak ada yang menyebutnya garam, bahkan lautan garam, tak ada, namun lautan. Itulah saya sebagai manusia dan makhluk lainnya, meski sebenarnya ada dan terlihat, namun sebenarnya tidak ada, karena sesuatu yang ada berasal dari yang tidak ada, semua yanh tampak berasal dari sesuatu yang tidak tampak, semua yang bisa dilihat berawal dari sesuatu yang tidak bisa dilihat. Baca ilustrasi berikut untuk memperjelas pernyataan saya ini, yang saya ambil dari sebuah buku Quantum Ikhlas karangan Erbe Sentanu (2010:2)

“Dimasa lalu ada seorang guru bijak yang selalu menyelenggarakan kuliahnya dibawah sebuah pohon yang tinggi dan besar menjulang kelangit. Dan suatu hari ketika kelas sepianak laki-laki dari guru itu bertanya pada ayahnya dari manakah langit, bumi, dan seluruh isinya, termasuk manusia berasal. Kemudian sang ayah memintanya mengambil satu buah yang sudah kering dan banyak terserak dibawah pohon besar itu, memintanya untuk membelahnya dan melihat isinya. Ketika itu menemukan sebuah biji keringdi dalamnya, sang ayah memintanya untuk terus membelahnya hingga akhirnya menemukan bahwa biji itu ternyata kosong, hampa, tidak berisi apa-apa. Sang ayah kemudian menjelaskan kepada anaknya bahwa seperti pohon raksasa yang sudah berusia ratusan tahun itu, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini bermula dari sesuatu yang tidak ada, kosong, dan hampa”. Dari sinilah jelas bahwa sebenarnya saya tidak ada, lalu siapa yang ada?.\

            Jika ditelisik dari sebuah hadits kudsi berikut yang saya ambil dari sebuah blog (http://kalempauu.blogspot.com/: 05 Juni 2015) dan semoga ini bukan hadis yang keliru, akan semakin jelas seperti apa sebenarnya saya jika terus dibelah seperti buah di atas, dan mampu menjawab pertanyaan di atas.

بَنَيْتُ فِى جَوْفِ اِبْنِ آدَمَ قَصْرًا وَفِى الْقَصْرِ صَدْرً وَفِى الصَّدْرِ قَلْبًا وَفِى الْقَلْبِ فُؤَادً وَفِى الْفُؤَادِ شَغْافًا وَفِى الشَّغَافِ لَبًّا وَفِى لَبِّ سِرًّا وَفِى السِّرِّ أَنَا (الحديث القدسى)
Artinya: “Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai dan dalam mahligai itu ada dada dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad) dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf) dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr) dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah”. (Hadis Qudsi)

            Terlihat jelas bukan siapa saya sebenarnya? Tidak ada saya jika terus dibedah semakin dalam. Yang ada hanya Saya yang menciptakan saya. Dari sini pula lah saya mengerti bahwa tujuan saya sebenarnya bukan berusaha keras mencari jawaban siapa saya, tapi siapa Saya yang menciptakan saya. Bukan urusan saya untuk memikirkan diri saya sendiri. Urusan saya adalah untuk memikirkan Saya (Tuhan). Dan urusan-Nya lah untuk memikirkan saya. Karena saya itu sebenarnya tidak ada, yang ada hanya Saya. Ternyata inilah yang dimaksud kalimat agung di atas, “siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya”. Dan ini pulah yang sekaligus menjaid jawaban pertanyaan saya di atas. Entah ini jawaban yang benar atau tidak.

            Selain itu saya juga yakin, saya adalah produk masterpeacenya Saya“Allah”, ini saya yakini dari potongan bait dari surat-Nya yang indah dan selalu menenangkan hati:

“Laqad khalaqnaa al-insaana fii ahsani taqwiimin – Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. QS. At Tiin: 4.

Dan kepada manusia, Allah sendirilah yang meniupkan ruh-Nya, “Fa-idzaa sawwaytuhu wanafakhtu fiihi min ruuhii - Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku”. QS. Shaad: 72.

            Dari dua ayat ini, saya yakin, dengan segala Rahman-Nya, ia ingin agar saya tidak hanya menjadi daun kering yang pasrah kemana sang angin membawa, aktris yang rela dengan tiap liku sandiwara yang ditulis untuknya. Dengan kesempurnaan itu, Ia ingin menguji produknya, apakah ia benar-benar layak dikatakan sang masterpeace? Dengan adilnya, Ia berikan kebebasan sang daun memilih dengan adanya arah timur, barat, selatan, dan utara. Ia beri kebebasan si aktris berlaku baik atau buruk dan Ia beri kesempatan padanya untuk memilih jalan cerita hidupnya yang pada dasarnya hanya ada dua pilihan, jalan cerita yang baik atau yang buruk. Terserah sang aktris. Dan Ia telah berikan petunjuk jalan kepada sang petualang dengan kebebasan mau membuka, membaca dan mengikutinya atau tidak, Ia tidak akan rugi sedikitpun dengan pilihan yang telah sang daun, aktris atau petualang (saya) tentukan.
            Karena saya bukanlah saya melainkan Saya, saya hanya ingin menitipkan padaNya setiap pilihan yang saya pilih, karena meski saya yang memilih namun pada akhirnya Saya jualah yang sebenarnya memilih. Kebebasan itu hadir sebagai permukaan, namun jika terus dibedah, maka pada akhirnya yang memilih adalah Saya, bukan saya. Oleh karena itu saya yakin betul, ketika saya MEMILIH apa pun itu di dunia ini, saya pasti mampu melakukannya karena sesungguhnya bukan saya yang memilih dan melakukan semua itu, melainkan Saya Yang Maha Kuasa melakukan apa pun dan Saya yang Maha Tau segalanya. Akhirnya, entah ini benar atau tidak, saya mulai menemukan siapa saya yang sebenarnya yang nyatanya tidak ada saya, melainkan Saya.


22 Mahasiswa/i Resmi Gabung IMM


SAMPIT - Sebanyak 22 Mahasiswa/i yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Ekonomi dan Bimbingan Konseling STKIP Muhammdiyah Sampit, akhirnya resmi gabung IMM.

Mereka resmi menyandang gelar IMMawan dan IMMawati setelah mengikuti proses perkaderan Darul Arqam Dasar (DAD) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Komisariat (Pikom) IMM Djasman Alkindi STKIP Muhammadiyah Sampit pada tanggal 2-6 September 2016 di Balai Penataran Guru (BPG) Kabupaten Kotawaringin Timur, Propinsi Kalimantan Tengah.

Perkaderan IMM selain membiasakan kader untuk selalu taat beribadah, juga memberikan banyak pengetahuan baru, melatih kekompakan serta belajar untuk berpikir kritis. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh salah satu peserta pada  penyampaian pesan dan kesan selama mengikuti DAD. “Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk mengikuti DAD. Selain membiasakan shalat tepat waktu, Kami juga mendapatkan banyak ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Kami juga mampu melatih kerja dalam kelompok dan berpikir kritis.” Ujarnya   

Sedangkan Ketua Pikom IMM Djasman Alkindi STKIP Muhammadiyah Sampit IMMawan Risno Rahmat Ihtiar berpesan kepada kader baru agar menjadi kader yang militan. Yaitu kader yang mampu memperjuangkan IMM dan membawa IMM kearah yang lebih baik.

Hadir pula dalam kegiatan ini Ketua Umum PC IMM Kotawaringin Timur IMMawati Ayu Oktarizza yang sekaligus menjadi Master Of Training. Beliau berpesan bahwa “”,Memilih IMM bukan hanya sekedar memilih tempat untuk berorganisasi atau berkegiatan, tetapi memilih prinsip hidup. Maka kader yang telah mengikrarkan diri bersama IMM harus menghidupkan IMM dalam diri kader. Maka berperilakulah sesuai prinsip IMM dan teruslah “kepo” pada sesuatu agar kita selalu ingin mencari tahu", katanya.

Perlu diketahui bahwa DAD adalah perkaderan tingkat pertama di IMM yang menjadi syarat utama untuk menjadi anggota IMM. Pada DAD kali ini tema yang diusung adalah “Menciptakan Kader IMM yang Berprinsip Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah dalam Mewujudkan Cita-cita Ikatan”. Kader IMM menyadari bahwa keberadaan IMM bertujuan untuk mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.


DAD adalah salah satu upaya untuk menciptakan akademisi islam yang berakhlak mulia sehingga mampu menciptakan generasi pemegang estavet kepemimpinan selanjutnya baik di IMM, maupun di Muhammadiyah.  Untuk itu penanaman nilai-nilai dan identitas IMM sangat dibutuhkan dalam forum perkaderan seperti ini , dengan nilai tri kompetensi dasar yang dimiliki IMM yaitu religiusitas, intlektualitas, dan humanitas, kader IMM akan bisa mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dengan seimbang sebagai basis gerakan. Sehingga dimasa yang akan datang terbentuklah kader-kader Muhammadiyah yang siap mengemban amanah persyariakatan dengan sebaik-baiknya. “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah” begitulah pesan singkat dari KH Ahmad Dahlan kepada kader Muhammadiyah.

Bolehkah Aku Memanggilmu Ayah ?

Segala rutinitas yang mengantarkan aku pada kesibukan mengurus karier, uang, dan kekuasaan (pekerjaan), boleh jadi telah mengeraskan hatiku. Terlebih lagi jabatanku di perusahaan yang semakin strategis dan menuntut tanggung jawab besar. Aku sadari juga ternyata itupun menjauhkan diriku dari nilai-nilai ukhrawi yang sejak kecil ditanamkan oleh kedua orang tuaku. Dan, ternyata di satu masa, hal-hal yang berbau agamis hilang begitu saja digulung menjauh dari relung kalbu.
Saat ini, aku sudah berkeluarga dengan dua orang putra-putri yang boleh kubanggakan. Kata orang aku tampan dan brilliant. Istriku wanita karier yang tidak saja cantik dan pintar, tapi juga lemah lembut keibuan. Pendeknya, rumah tanggaku dikaruniai kebahagiaan. Alhamdulillah...
Selama ini banyak hal-hal yang bersifat sosial diurus dengan baik oleh istriku. Bantuan untuk anak yatim, rumah jompo, anak cacat, pembangunan masjid, sekolah, dan lain-lain. O ya termasuk mengalokasikan dana dari gaji kami untuk zakat, kurban, infak, dan sedekah. Aku sih tinggal menerima laporan saja. Pokoknya tugas utamaku adalah mencari uang. Karena bukankah hanya dengan uang kita bisa menyelesaikan semua masalah?
Walau kadang-kadang istriku mengingatkan aku agar tidak terlalu keras bekerja. Aku cuma tersenyum kecut. Memangnya dari mana semua kemewahan bisa diperoleh kalau tidak bekerja keras? Dari mana semua kebutuhan hidup dapat diraih kalau bukan dengan uang?
Namun demikian, pandanganku soal materi lenyap begitu saja ketika sore itu aku menemani istriku menyantuni anak-anak yatim di sebuah panti asuhan di pinggiran kota Jakarta. Panti asuhan suram, kotor, dan penuh dengan anak-anak kurus, pucat, dan bau. Pakaian yang dikenakan mereka sudah tak layak pakai lagi. Mengapa sih istriku tidak mencari tempat santunan yang lebih bersih gitu? Yang anak-anaknya lebih manis-manis, bersih, dan beradab. Huhh... tahu begini malas deh aku nganterin!
Saat itu, acara kami bersilaturrahmi di panti asuhan sudah hampir selesai. Semua anak sudah dibagikan pakaian baru, perlengkapan sekolah, dan sejumlah buku cerita dan majalah anak-anak. Makanan, minuman, serta sejumlah uang tunai yang dititipkan kepada ibu asrama cukup untuk konsumsi sebulan panti.
Aku bersiap-siap hendak ke mobil, ketika seorang anak perempuan sebaya Salsabilla, putriku berusia tujuh tahun, takut-takut mendekatiku.
”Om....” tanyanya ragu.
”Ya, ada apa sayang?” aku mencoba ramah. Kulihat dia tidak seperti anak lainnya. Kulitnya sawo matang bersih dan wajahnya cantik. Matanya yang berbinar menunjukkan kecerdasan dan kemurnian hati.
”Om, bolehkah saya meminta sesuatu?”
”Mau minta apa lagi?” jawabku terdengar agak ketus. Aku kaget juga mendengarnya.
”Eh.... ee, maksud Om, apa lagi yang kamu butuhkan?” kucoba memperbaiki diri saat kulihat bola matanya mulai digenangi air mata.
”Bo-bolehkan sasa-saya minta se..se..suatu?” tanyanya terbata dengan suara nyaris hilang diembus angin.
”Tentu saja boleh, Sayang. Mau boneka Barbie?” aku teringat Salsa yang mengoleksi lengkap dengan rumah, pakaian, dan pernik-pernik lainnya. Tapi gadis kecil ini menggelengkan kepala.
”Hmmm..., sepatu baru mungkin?” aku mencoba mulai bermain teka-teki. Dia masih tetap menggeleng.
”Atau sebuah sepeda mini?” Tapi tetap saja dia menggeleng. Aku jadi kesal. Mau minta apa sih? Uang barangkali, omelku dalam hati.
”Apa Om enggak marah?” tanyanya takut-takut. Aku menggeleng menyejajarkan pandanganku dengan matanya sambil memegang kedua bahunya.
”Katakan sayang, mau minta apa?”
”Mmm, mmm, bolehkah saya memanggil Om, ayah?” tuturnya dengan penuh keraguan. "Saya, saya tidak pernah punya ayah. Kata Ibu Tien, kepala panti, Bapak mati ditabrak kereta api waktu saya masih di dalam perut Emak. Saya kepingin sekali punya ayah. Bolehkah saya memanggil Om, ’Ayah’?”
Duhai Allah... ada apa ini? Mengapa seorang anak panti tidak tertarik dengan benda-benda mahal yang kutawarkan kepadanya? Dia hanya ingin memanggilku Ayah. Aku tak pernah menangis. Kehidupan yang keras telah mengajariku lupa menitikkan air mata, pun saat shalat yang hanya sekali-sekali kulakukan. Itu pun saat Ramadhan dan berbuka puasa bersama para relasi dan kerabat.
Tapi saat ini hatiku terguncang hebat. Allah SWT secara telak mengalahkanku. Astaghfirullah al’-azhiim... Kupeluk dia erat-erat, ”Tentu saja sayang, kamu boleh memangilku Ayah”.
”Betul?” wajahnya menyiratkan rasa tidak percaya namun bahagia. Kami berpelukan beberapa saat.
”Ayah, bolehkah saya minta satu lagi?” aku mengangguk.
”Bolehkah saya minta foto Ayah, Ibu, dan Kakak-kakak? Saya akan kasih lihat teman-teman di sekolah bahwa saya juga punya keluarga sama seperti mereka. Boleh?”


Bacaan Dzikir Sesuai Tuntunan Rasulullah



Bacaan Dzikir Sesuai Tuntunan Rasulullah

Pertama:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ (3x)
اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.

Astaghfirullah (3x). Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.

“Aku minta ampun kepada Allah,” (3x). Lantas membaca: “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

Keterangan: HR. Muslim no.591 (135), Ahmad (V/275,279), Abu Dawud no.1513, an-Nasa-i III/68, Ibnu Khuzaimah no.737, ad-Darimi I/311 dan Ibnu Majah no.928 dari Sahabat Tsauban radhiyallaahu ‘anhu.

Kedua:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Allahumma laa maani’a lima a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfau dzal jaddi minkal jaddu.

“Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.”

Keterangan: HR. Al-Bukhari no.844 dan Muslim no.593, Abu Dawud no.1505, Ahmad IV/245, 247, 250, 254, 255, Ibnu Khuzaimah no.742, ad-Darimi I/311, dan An-Nasa-i III/70,71, dari  Al-Mughirah bin Syu’bah.

Ketiga:
                              
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyah. Lahun ni’mah wa lahul fadhl wa lahuts tsanaaul hasan. Laa ilaha illallah mukhlishiina lahud diin wa law karihal kaafiruun.

“Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepadaNya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci.”

Keterangan: HR. Muslim no.594, Ahmad IV/ 4, 5, Abu  Dawud no. 1506, 1507, an- Nasa-i III/70, Ibnu Khuzaimah no.740, 741, Dari ’Abdullah bin az-Zubair Rahimahullah.

Keempat :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. 10× بعد صلاة المغرب والصبح

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumiit wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir .

“Tiada Rabb yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 10 x setiap sesudah shalat Maghrib dan Subuh)

Keterangan: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa setelah shalat Maghrib dan Shubuh membaca ‘Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, yuhyiy wa yumiytu wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir,’  sebanyak 10x Allah akan tulis setiap satu kali 10 kebaikan, dihapus 10 kejelekan, diangkat 10 derajat, Allah lindungi dari setiap kejelekan, dan Allah lindungi dari godaan syetan yang terkutuk.” (HR. Ahmad IV/227, at-Tirmidzi no.3474). At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan gharih shahih.”

Kelima :

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allahumma a-’inniy ’ala dzikrika wa syukrika wa husni ’ibaadatika.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.”

Keterangan: HR. Abu Dawud no.1522, an-Nasa-i III/53, Ahmad V/245 dan al-Hakim (I/273 dan III/273) dan dishahihkannya, juga disepakati oleh adz-Dzahabi, yang mana kedudukan hadits itu seperti yang dikatakan oleh keduanya, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan wasiat kepada Mu’adz agar dia mengucapkannya di setiap akhir shalat. 

 Keenam:

سُبْحَانَ اللهِ + الْحَمْدُ لِلَّهِ + اللهُ أَكْبَرُ (33 ×) لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

Subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar (33 x). Laa ilaha illallah wahda, laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

“Maha Suci Allah + segala puji bagi Allah + dan Allah Maha Besar (masing diucapkan 33 x). Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan. BagiNya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Keterangan: “Barangsiapa membaca kalimat tersebut setiap selesai shalat, akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti buih di lautan.” HR. Muslim no.597, Ahmad II/371,483, Ibnu Khuzaimah no.750 dan al-Baihaqi II/187).

Ketujuh :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir.

"Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Keterangan: “Barangsiapa membaca kalimat tersebut setiap selesai shalat, akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti buih di lautan.” HR. Muslim no.597, Ahmad II/371,483, Ibnu Khuzaimah no.750 dan al-Baihaqi II/187).

Kedelapan:
Membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq dan al-Naas

Keterangan: HR Abu Dawud no.1523, an-Nasa-i III/68, Ibnu Khuzaimah no.755 dan Hakim I/253. Lihat pula Shahiih at-Tirmidzi III/8 no.2324. Ketiga surat tersebut dinamakan al-Mu’awwidzaat. 
 
Kesembilan:

Membaca Ayat Kursi (al-Baqarah: 255)

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allaahu laa ilaaha illaa huu, al hayyul qoyyum, la ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardh. Man djalladjii yasyfa’u ’indahuu illa bi idjnih. Ya’lamu maa bayna aydiihim wa maa kholfahum. Wa laa yuhiithuuna bi syay-im min ’ilmihii illa bi maa syaa-a. Wasi’a kursiiyyuhussamaawaati wal ardh. Walaa ya-uuduhuu hifzhuhumaa. Wa huwal’aliiyul ’azhiim.

”Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
(Al-Baqarah: 255)

Keterangan: “Barangsiapa yang membacanya setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk Surga selain kematian.” HR. An-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah’ no.100 dan Ibnus Sunni no.124 dari Abu Umamah rahimahullah, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani.
 
Kesepuluh:
Membaca shalawat dan dilanjutkan dengan doa-doa lain sesuai keperluan, antara lain doa misalnya:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.

Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyiba, wa ‘amalan mutaqobbala.

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima.” (Dibaca setelah salam shalat Shubuh)


Laskar Al Maun : Peduli dan Mencerahkan

GAMBARAN UMUM DAN BENTUK KEGIATAN LASKAR AL MAUN

A.     Gambaran Umum
Manusia sebagai makhluk sosial tentu tidak mungkin bisa memisahkan hidupnya dengan manusia lain. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi membutuhkan manusia lain dalam beberapa hal tertentu, dan haruslah saling menghormati, mengasihi, serta peduli terhadap berbagai macam keadaan disekitarnya. Karena pada hakikatnya manusia tidak bisa hidup sendiri. Ada ketergantungan dan harus saling tolong menolong.
Laskar Al Maun adalah salah satu gerakan sosial yang digagas oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kotawaringin Timur dan bertujuan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu. Laskar Al Maun merupakan penerapan dari makna surat Al Ma’un yang menceritakan tentang ancaman terhadap mereka yang tergolong mendustakan agama yakni mereka yang menghardik anak yatim, tidak menolong fakir miskin, riya’ (ingin dipuji dalam shalatnya) serta enggan menolong dengan barang-barang berguna.
B.     Bentuk Kegiatan
Adapun bentuk kegiatan Laskar Al Maun adalah sebagai berikut :
1.    Pendampingan wirausaha
Dalam upaya membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan serta mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah, Laskar Al Maun membuat program sosial pendampingan wirausaha. Pendampingan wirausaha ini ditujukan kepada masyarakat yang kurang mampu, tidak memiliki pekerjaan tetap, serta kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Konsep program tersebut adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan terhadap calon wirausahawan sampai benar-benar siap untuk terjun langsung berwirausaha. Pada awalnya kami menyediakan peralatan (modal) yang didapat dari donator, serta mempersiapkan produk yang akan dijual berdasarkan kesepakatan dengan calon wirausahawan.
2.    Sekolah Gratis
Masa anak-anak/remaja adalah masanya untuk belajar dan belajar. Karena dengan belajar mampu menjadi pribadi yang  lebih baik serta menghindarkan dari kebodohan. Namun pada kenyataanya di masyarakat kita banyak anak-anak/ remaja yang tidak bersekolah karena alasan ekonomi keluarga, hingga memaksa mereka putus sekolah dan  bekerja lebih keras di usia yang masih sangat kecil.
Maka dari itu untuk mengatasi/mengurangi masalah tersebut, Laskar Al Maun membuat program sekolah gratis yang bertujuan untuk menghindarkan generasi muda dari putus sekolah dan menghindarkan generasi muda dari kebodohan dengan  upaya mencarikan orang tua angkat yang bersedia untuk membiayai sekolahnya.  
3.    Pembagian Perlengkapan sekolah
Pembagian perlengkapan sekolah tersebut, ditujukan kepada anak-anak yang bersekolah namun mengalami kesulitan dalam memenuhi perlengkapan sekolahnya. Seperti halnya buku, tas, sepatu dan lain-lain. Banyak dari mereka yang harus bekerja terlebih dahulu untuk memenuhi perlengkapan sekolah tersebut.
Untuk meringankan beban mereka Laskar Al Maun membuat program pembagian perlengkapan sekolah kepada siswa yang kurang mampu agar pelaksanaan sekolahnya bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan, serta memberikan semangat kepada siswa untuk terus bersekolah. Adapun  bentuk bantuan yang diberikan adalah satu set perlengkapan sekolah yang terdiri dari :
a.    1 (satu) lusin buku tulis.
b.    Penggaris
c.    Penghapus
d.    Tas sekolah
e.    Seragam sekolah, sampai sepatu untuk bersekolah.
4.    Bedah Rumah (Perbaikan Rumah)
Bedah Rumah (Perbaikan Rumah) merupakan program kegiatan dari Laskar Al Maun yang selanjutnya. Kegiatan ini ditujukan kepada masyarakat yang kurang mampu dalam memperbaiki rumahnya. Karena masalah ekonomi yang akhirnya menghambat mereka dalam memperbaiki rumahnya. Maka dari itu Laskar Al Maun yang dibantu oleh donatur berupaya meringankan beban mereka dalam bentuk sumbangan materi atau dalam bentuk bahan seperti kayu, seng dan lain-lain sesuai dengan perlengkapan yang dibutuhkan.
5.    Tidak Terduga/lain-lain
Kegiatan tidak terduga/lain-lain ini merupakan suatu kegiatan yang bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun berada selain yang tercantum di atas. Ketika adanya suatu bencana seperti kebakaran, kebanjiran atau hal lainya, Laskar Al Maun akan berupaya dalam membantu korban bencana tersebut. Insya Allah...

Laskar Al Maun membuka kesempatan untuk teman-teman yang ingin berpartisipasi dalam menjalankan dan menyukseskan program-program tersebut dengan menjadi donatur di Laskar Al maun. Bantuan bisa anda kirim di nomor rekening berikut ini :
Nomor rekening         : 6320006689
Nama Bank                : Muammalat
Atas Nama                 : Misbachul Munir
Bantuan dari anda sangat membantu untuk terlaksananya program tersebut. Semoga Allah membalas kebaikan anda dengan berlipat ganda. Amin
Untuk info lebih lanjut silahkan hubungi nomor di bawah ini.

0856 5220 6994 atas nama Munir.