Friends

Keblinger

Keblinger

51 IMM dan Kesederhanaan


Perayaan Milad ke 51 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang bertajuk “Syukuran 51 IMM” dirayakan dengan penuh kesederhaan oleh Pimpinan Cabang (PC) IMM Kotawaringin Timur (Kotim). Acara yang berlangsung di Sekretariat IMM  Jl RA Kartini No 01 Sampit ini dihadiri oleh ortom Muhammadiyah, seperti Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), kader IMM Kotawaringin Timur serta orang-orang yang pernah berperan aktif untuk kemajuan IMM selama ini.

Dalam sambutan yang di sampaikan Ketua Umum PC IMM Kotim bahwa beliau mengucapkan terima kasih kepada seluruh kader IMM dan orang-orang yang pernah terlibat di IMM yang selama ini telah berkontribusi untuk kemajuan IMM. Terutama IMM di Kabupaten Kotim. “Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh kader dan orang-orang yang pernah berperan dalam memajukan IMM, semoga apa yang telah teman-teman berikan mendapat balasan yang setimpal dan bernilai suatu ibadah”.

Dalam memperingati Milad IMM yang ke 51, IMM Kabupaten Kotim melaksanakan beberapa agenda diantaranya :
  1.   Lomba video pendek untuk PC dan Pimpinan Komisariat Se Indonesia yang sampai saat ini masih berlangsung.  
22. Syukuran dalam rangka memperingati Milad IMM ke 51
33. Gerakan Berbagi Iqra yang dibagikan kepada TPA, TPQ dan Masjid di Kecamatan Seranau (Seberang) Kabupaten Kotim.

Dalam acara syukuran kali ini, dimanfaatkan kader IMM Kotim untuk menyambung silaturrahim antara kader IMM dan keluarga besar Muhammadiyah di Kabupaten Kotawaringin Timut. Meski penuh dengan keserderhanaan tetapi tidak mengurangi keharmonisan antara keluarga besar Muhammadiyah di Kabupaten Kotawaringin Timur. IMM dan kesederhanaan adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan.

Meski secara umum IMM saat ini telah berusia 51 tahun, perlu diketahui bahwa IMM di Kabupaten Kotim baru berdiri semenjak 4 tahun yang lalu. Diusianya yang masih sangat muda, IMM di Kotim masih memerlukan bimbingan dan arahan dari orang-orang yang telah berpengalaman, terutama dari keluarga besar Muhammadiyah di Kotim. Hal itu dimaksudkan supaya IMM kedepanya bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya serta mampu mewujudkan tujuan Muhammadiyah. Semoga IMM kedepanya mampu menjadi yang lebih baik dan lebih baik . . Amin . .





Berilmu Amaliah dan Beramal Ilmiah


BERILMU AMALIAH DAN BERAMAL ILMIAH
Oleh : Misbachul Munir (PC IMM Sampit)

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan Memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,”aka berdirilah, niscaya Allah akan Mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadalah : 11)

Dalam tafsir Ibnu Abbas menjelaskan bahwa turunnya ayat ini berkenaan dengan Tsabit bin Qais bin Syammas yang kisahnya terdapat dalam surah al-Hujurāt. Ada yang berpendapat, ayat ini diturunkan berhubungan dengan beberapa orang ahli Badr (shahabat yang ikut serta dalam perang Badr), di antaranya Tsabit bin Qais bin Syamms yang datang menemui Nabi saw. ketika beliau sedang duduk di rumah Shafiyyah pada hari Jum‘at. Tetapi para ahli Badr itu tidak mendapatkan tempat duduk, hingga akhirnya mereka berdiri di depan majelis. Melihat hal itu, Nabi saw. berkata kepada orang-orang yang bukan ahli Badr, hai fulan, pindahlah dari tempatmu agar para ahli Badr itu bisa duduk. Nabi saw. sangat memuliakan ahli Badar. Nabi saw. pun mengetahui kalau orang-orang yang disuruhnya pindah itu merasa tidak senang. Sekaitan dengan kejadian itulah Allah Ta‘ala Menurunkan ayat tersebut.

Orang-orang yang dianugerahi iman dan ilmu mendapatkan beberapa keutamaan di dalam surga mengungguli derajat orang-orang yang diberi iman tanpa ilmu. Sebab seorang mukmin yang berilmu lebih utama daripada orang mukmin yang tak berilmu. Karna Allah mengetahui apa yang kita perbuat, yakni kebaikan dan keburukan yang kita lakukan.

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami Buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu.” (QS Al Ankabut : 43)
Allah sangat mengistimewakan orang-orang yang beriman dan berilmu dibandingkan dengan orang-orang yang beriman dan tidak berilmu, bahkan dalam ayat di atas Allah meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman dan berilmu dibandingkan dengan orang-orang yang beriman dan tidak berilmu.

Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap mukmin. Terutama ilmu agama. Seperti yang dikatakan Ibnu Abbas “Jadilah kamu semua itu golongan Rabbani, yaitu (golongn yang) penuh kjesabaran serta pandai dalm ilmu fiqih (yakni ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hokum-hukum agama) dan mengerti. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud “Rabbani” ialah orang yang mendidik manusia dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang kecil-kecil/ringan sbelum memberikan ilmu pengetahuan yang besar-besar (yang sukar).

Tidak hanya sekedar menuntut ilmu, tetapi juga berkewajiban untuk menyebarkan (mengamalkan) ilmu yang telah didapat. “Sampaikanlah dariku walau satu ayat” (HR. Bukhari). “Kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan, tentang ilmunya dalam hal apa ia kerjakan denganya, tentang hartanya dari  mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya dalam hal apa ia gunakan” (HR. Tirmidzi).  Bahkan dalam riwayat Thabrani dan Al Bazzar menjelaskan bahwa : “….. dan tentang ilmunya apa yang diamalkanya dari ilmu tersebut.”

Ada yang mengatakan bahwa ilmu tanpa amal adalah cacat. Ada juga yang mengatakan ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tak berbuah. Artinya ilmu tersebut tidak akan berguna, tidak ada manfaatnya karena ilmu yang dia peroleh/miliki hanya untuk dirinya sendiri dan tidak dibagikan kepada orang lain, maka rasul sangat membenci seseorang yang mengetahui kebenaran (ilmu) sedang itu sangat bermanfaat tetapi orang tersebut tidak mau mengamalkan atau bahkan tidak mau berbagi dengan orang lain. 

Pengetahuan (ilmu) yang kita peroleh harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya untuk diri kita sendiri, melainkan untuk orang-orang disekitar kita. Karena hakikatnya ilmu yang kita peroleh harus kita amalkan. Bahkan setelah kita meninggal ada tiga hal yang tidak akan putus pahalanya kepada kita, salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Bermanfaat artinya untuk diri kita sendiri, dan orang-orang disekitar kita (mengamalkan). Lalu bagaimana bila orang yang berilmu tetapi tidak mau mengamalkanya, apakah pahalanya akan terus mengalir kepada orang tersebut ? tentu tidak ! karena ilmu yang dimiliki tidak diamalkan, sedangkan syarat pahalanya akan terus mengalir adalah ketika ilmu itu bermanfaat, yaitu bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Maka tujuan dari mempelajari ilmu adalah untuk beramal dengan sungguh-sungguh dalam menerapkanya. Allah menghendaki orang-orang yang berakal dan bagi mereka kebaikan di dunia dan akhirat. Amin…

Maka dari itu ilmu harus amaliah. Artinya harus kita amalkan, harus kita terapkan, harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya karenanya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu dibandingkan orang-orang yang tidak berilmu. Dan kepadanya Allah akan memberikan baginya kebaikan di dunia dan akhirat. Insya Allah.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti amal adalah perbuatan (baik/buruk) yang dilakukan dengan tujuan untuk berbuat kebaikan terhadap masyarakat atau sesame manusia. Sedangkan ilmiah yaitu besifat ilmu, secara ilmu pengetahuan, memenuhi syarat (kaidah) Ilmu pengetahuan.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja dari mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al Baqarah : 62)
“Dan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah : 82)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala disisi Tuhanya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah : 277)

Dalam tafsir Ibnu Abbas menjelaskan bahwa sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Musa As dan semua Nabi, mereka akan mendapat pahala dari Rabb mereka di dalam surga. Menurut satu pen dapat, mereka tidak akan merasa takut menghadapi azab yang akan datang dan mereka tidak bersedih atas semua yang mereka tinggalkan. Menurut yang lainya, mereka tidak merasa takut manakala al-maut disembelih dan tidak pula mereka berduka manakala neraka ditutup. seseorang yang beriman lalu beramal saleh, mereka adalah penghuni surga dan akan kekal di dalamnya. Mereka tidak akan mati dan tidak akan keluar darinya.

Telah di jelaskan di atas bahwa ilmu harus amaliah dan amal harus ilmiah. Artinya sebuah ilmu harus kita amalkan, harus kita terapkan, harus kita manfaatkan dengan sebaiknya, agar ilmu tersebut bisa bermanfaat dan menjadi ladang amal ketika kita kembali menghadap-Nya. Sedangkan amal itu harus ilmiah, bersifat ilmu, memenuhi syarat (kaidah) ilmu pe ngetahuan. Artinya amal yang kita lakukan itu harus berdasarkan ilmu dan sesuai dengan kebenaran, mempunyai dasar/landasan kenapa kita mengamalkan hal tersebut.

Di atas juga telah dijelaskan bahwa jika ilmu itu tanpa amal maka cacat sedangkan amal tanpa ilmu itu buta. Tak salah jika ilmu itu tidak amalkan maka tidak akan ada manfaatnya melainkan hanya untuk diri sendiri dan tidak untuk orang lain. Sedangkan amal yang kita kerjakan tetapi tidak dilandaskan pada ilmu pengetahuan atau dasar yang jelas, maka tidak akan berjalan seperti apa yang telah dituntunkan oleh Rasulullah saw. Karena Rasul adalah sebaik-baiknya suri tauladan bagi kita, maka apa yang telah beliau contohkan mari kita kerjakan dengan sebenar-benarnya dan apa yang telah beliau contohnkan lebih  baik ditinggalkan.

Karena dalam hal ilmu agama jelas bahwa imu Rasul telah sempurna. Artinya pas, tidak kurang atau lebih. Jika memang itu penting dan harus dikerjakan oleh umat manusia sudah jelas beliau akan mengajarkan kepada kita, tetapi kalau hal tersebut tidak harus dikerjakan oleh umat manusia sudah pasti beliau tidak akan mengajarkanya kepada kita. “Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai islam jadi agama bagimu” .(Al Maidah : 3)

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat terbesar dari berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat ini. Yaitu Allah telah menyempurnakan utk mereka agama mereka, sehingga mereka tak membutuhkan agama yang lain & juga tak membutuhkan nabi selain nabi mereka, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi & menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia & jin. Maka tak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya & tak ada yang haram selain apa yang diharamkannya serta tak ada agama yang benar kecuali agama yang disyari’atkannya.”

Imam Malik bin Anas berkata, “Barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah dalam Islam yang ia pandang hal itu baik (bid’ah hasanah), maka sungguh dia telah menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah agama ini. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah berfirman: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agama-mu untukmu…” (Imam Malik rahimahullah selanjutnya berkata), “Maka sesuatu yang pada hari itu bukanlah ajaran agama, maka hari ini pun sesuatu itu bukanlah ajaran agama”.

Maka dari itu kita sebagai umat manusia sudah selayaknya mengamalkan ilmu yang kita miliki serta sesuai dengan tuntutan Rasulullah saw, sesuai dengan apa yang telah beliau ajarkan, karena sebaik-baiknya kebaikan adalah apa yang telah beliau contohkan, begitu juga sebaliknya. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang mencontoh beliau, baik dalam perbuatan dan perkataan. Karena perkataan, perbuatan bahkan diamnya beliau adalah sebuah kebaikan. Mudah-mudahan kita juga mengakui beliau sebagai Nabi dan Rasul kita, tidak hanya itu semoga kita diakui beliau sebagai umatnya serta mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti. Amin…

Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) adalah slogan yang tidak hanya slogan akan tetapi sudah seharusnya kita laksanakan. Jangan lupakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, karena hal tersebut merupakan arah pergerakan dari persyarikatan. Janganlah mengejar duniawi akrna ada kehidupan yang kekal setelahnya. Janganlah mencari pujian dari manusia karna ada hal yang lebih penting yaitu mengejar Ridho-Nya. Sesuatu hal yang kita kerjakan sesuai dengan syariat dan ikhlas karna mengharap Ridho-Nya, Insya Allah akan mendapat balasan yang belipat ganda dari-Nya pula. Semoga kita termasuk umat manusia yang mendapatkan kenikmatan di dunia dan akhirat. Amin Ya Rabb  

Masa Ta'aruf IMM di STKIP Muhammadiyah Sampit

Masa Ta’aruf (Masta) STKIP Muhammadiyah Sampit merupakan serangkaian kegiatan rutin tiap tahun yang diadakan oleh pihak kampus, melalui mahasiswa yang menjadi motor penggerak dari kegiatan tersebut. Kegiatan ini diawali dengan Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi (PKPT) selama 2 hari dan dilanjutkan dengan Masa Ta’aruf yang dilaksanakan 3 hari. Kegiatan ini diikuti ratusan mahasiswa yang telah mendaftarkan diri untuk mengikuti kegiatan tersebut. Selain diikuti mahasiswa baru, pada kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa tingkat atas.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kotim yang merupakan organisasi internal kampus diberikan kesempatan untuk mengenalkan kepada peserta supaya mengenal lebih dekat tentang IMM. IMM selalu mendapatkan kesempatan tiap tahunya untuk sedikit mengenalkan apa itu IMM, posisi IMM di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM),  apa saja kegiatan IMM dan lain sebagainya. Ini menjadi hal yang sangat penting karena IMM merupakan organiasi otonom (Ortom) yang tugasnya membina kader untuk meneruskan perjuangan Muhammadiyah ke depanya.

Pada pengenalan tersebut dibuka oleh IMMawati Peni Rosita dan penyampaian materi oleh IMMawan Misbachul Munir. Pada materi yang disampaikan, beliau mengatakan bahwa organisasi internal yang terdapat di PTM adalah Senat mahasiswa dan IMM. Hal tersebut juga sesuai dengan qoidah PTM bab 10 Pasal 39 ayat 3. jadi selain senat mahasiswa dan IMM merupakan organisasi eksternal. Beliau juga mengatakan bahwa menjadi seorang mahasiswa janganlah seperti mahasiswa Kupu-kupu (Kuliah Pulang Kuliah Pulang), seorang mahasiswa harus aktif dalam berbagai kegiatan. Karena suatu saat nanti kita akan kembali ke masyarakat dan salah satu manfaat dari organisasi lah temen-temen akan mendapat banyak ilmu tentang sosial masyarakat.

Pada kesempatan ini pula IMM membagikan voucher kepada para peserta yang beruntung melalui game yang dimainkan antara anggota IMM bersama seluruh peserta. Pada game yang dilaksanakan, seluruh peserta terlihat antusias dan sangat ceria. Hal ini dilihat dari semangat dan tawa yang terlihat dari raut wajah para peserta. Pada pengenalan kali ini akhirnya ditutup dengan menonton video bersama yang telah IMM siapkan untuk para peserta yang diakhirnya merupakan ucapan selamat datang dari IMM kepada seluruh mahasiswa baru. Hal tersebut merupakan bukti bahwa sluruh mahasiswa yang tergabung dalam PTM merupakan bagian dari IMM.
Fastabiqul Khairat


Rayakan malam takbiran dengan pawai keliling kampung

Rayakan malam takbiran dengan pawai keliling kampong

Berkenaan dengan ditetapkanya hari raya Idul Fitri 1435 H oleh menteri agama Republik Indonesia melalui sidang isbat yang dilaksanakan pada 27 Juli 2014, maka masyarakat di seluruh Indonesia telah siap menyambut hari kemenangan bagi semua umat muslim yang akan jatuh pada esok hari yaitu 28 Juli 2014.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh masyarakat Dukuh Teseh Kelurahan Meteseh Kecamatan Tembalang Kota Semarang, melalui kelompok remaja setempat yang mengatasnamakan ORPAM (Organisasi Pemuda Meteseh) mereka menjadi motor penggerak untuk melakukan pawai keliling kampung dalam rangka meramaikan serta menyambut hari raya Idul Fitri 1435.

Masyarakat sangat antusias dalam mengikuti pawai ini, menurut warga pawai ini dilakukan untuk menyambut hari kemenangan setelah menjalankan puasa satu bulan lamanya. Hal ini bisa menjadikan hiburan setelah sebulan lamanya kita menahan hawa nafsu.

Pada pawai ini start dimulai dari masjid Baitussalam dan finish pada basecam (sekretariat)  ORPAM. Tidak hanya diikuti oleh para pemuda, tetapi tua, muda semua tumpah ruwah dalam mengikuti pawai kali ini. Sepanjang pawai masyarakat tidak henti-hentinya mengumandangkan lafadz takbir, tahlil dan tahmid. Warga sangat antusias dan sangat bersemangat dalam mengikuti pawai kali ini.


Lewat pawai ini ketua ORPAM M. Fathurrachman mengungkapkan supaya pawai ini selain sebagai ajang silaturrahmi antar warga, tetapi juga untuk memeriahkan dalam menyambut hari kemenangan bagi seluruh umat islam. Di Idul Fitri ini semoga kita kembali kepada fitrah kita sebagai manusia serta dibersihkan atas dosa-dosa yang kita lakukan pada hari-hari sebelumnya. Pawai kali ini diakhiri foto bersama oleh seluruh pemuda ORPAM bersama warga Dukuh Teseh. 

Kekeliruan Umum Selama Bulan Ramadhan


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wr.wb.

Alhamdulillah….lagi-lagi kita harus bersyukur kepada Allah swt karna berkat rahmat dan hidayahn-Nya sampai saat ini kita masih diberikan kesempatan untuk melaksanakan aktifitas sehari-hari kita sebaimana mestinya.

Shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi Muhammad saw, dial ah nabi akhir zaman, dialah sosok tauladan dan dial ah yang telah membawa islam sampai saat ini, sehingga kita bisa menikmati islam yang sebenar-benarnya. Karena bila kita kembali kepada sejarah dakwah rasulullah saw tentunya tidak mudah, banyak sekali rintangan yang beliau hadapi dalam menyebarkan ajaran islam. Ejekan, diperangi, dihina, seakan-akan sudah menjadi hal yang biasa buat beliau. Tetapi beliau tidak menyerah begitu saja, beliau selalu istiqomah dalam menyebarkan ajaran agama islam. Kita akan ingat ketika beliau berdakwah di thaif, saat itu beliau baru saja di tinggal pamanya dan istrinya Siti Khadijah yang telah dipanggil Allah swt. Dakwah beliau di Thaif ternyata tidak semudah yang kita bayangkan, ketika beliau berdakwah di daerah tersebut ternyata warga malah melempari rasulullah dengan batu sampai kaki beliau mengeluarkan darah. Tetapi beliau tetap sabar dan tidak menyerah dalam menyebarkan ajaran islam.

Hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan kondisi kita saat ini. Para ustadz atau ulama bisa dengan mudah dalam menyebarkan ajaran islam. Jarang kita lihat ustad atau ulama yang menyebarkan islam tetapi harus mendapat perlawanan dari warga. Jika dulu Rasulullah berdakwah mendapat cercaan tetapi ustad atau ulama yang berdakwah justru mendapat bingkisan. Hal itu lah yang seharusnya kita syukuri karna berkat perjuangan Rasulullah saw akhirnya kita dapat merasakan islam dengan penuh kemudahan. Maka dari itu sebagai rasa syukur kita dianjurkan untuk selalu bershalawat kepada beliau minimal satu kali dalam sehari.

Pada kesempatan kali ini saya akan sedikit berbagi tentang beberapa kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia yang berpuasa di bulan ramadhan dan akhirnya tidak mendapat pahala puasa tetapi hanya mendapat lapardan dahaga. Beberapa kesalahan-keselahan tersebut antara lain :
1.Merasa malas, loyo dan tak bergairah di bulan ramadhan
Kerap kali hal tersebut dialami oleh manusia yang sedang menjalankan ibadah puasa. Puasa selalu dijadikan alasan bagi mereka untuk bermalas-malasan dalam menjalankan aktifitas sebagaimana mestinya. Meskipun kita sedang berpuasa kita harus tetep menjalankan aktifitas kita seperti biasanya.

2. Berpuasa tetapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu
Ini penyakit yang   menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari dirinya.

3. Berpuasa tetapi tetap melakukan perbuatan yang dilarang islam.
Asal makna berpuasa bermakna menahan diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita bukan hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; Makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari.
Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang. Secara tidak sadar hal tersebut selalu ada dalam diri kita, rasa iri, tidak mampu menahan lisan dari perkataan yang tidak baik dll. Padahal hal tersebut bisa mengurangi pahala puasa kita.

4. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah)
Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah), tidak utuh.

5. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan
Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian besar  umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan. Padahal yang dimaksud tidur sebagai ibadah adalah dari pada kita melaksanakan aktifitas yang sia-sia yang sama sekali tidak bernilai ibadah seperti ngerumpi, judi, iri, dengki dan lain sebaginya maka lebih baik kita tidur saja, maka dari itu tidur dijadikan sebagai ibadah karna mampu mencegah kita dari perbuatan yang justru akan mengurangi pahala puasa kita.

6. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan (terutama untuk laki-laki muslim)
Hukum shalat fardhu secara berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain, berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid.

7. Biaya belanja & pengeluaran ( konsumtif ) selama bulan Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah)
Pada bulan ramadhan sebenenya merupakan bulan dimana kita mengurangi konsumsi kita. Akan tetapi masyarakat saat ini sangat terbalik masyarakat menganggap bahwa bulan ramadhan merupakan bulan menunda bukan bulan mengurangi. Menurut ilmu ekonomi di bulan ramadhan sebenarnya harga barang akan turun karena kurangnya masyarakat yang mengkonsumsi barang, akan tetapi karna bualn ramadhan merupakan bulan menunda makanan, makanya harga barang malah menjadi naik, bukan turun.

8. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa
Mereka lebih sibuk apa yang dipakai di hari raya dibanding memikirkan apakah puasanya pada tahun ini diterima oleh Allah Ta’aala atau tidak Orang-orang yang biasanya mengalami hal tersebut adalah orang-orang yang tertipu oleh “fatamorgana Ramadhan”, betapa tidak ? Pada hari-hari puncak Ramadhan, mereka malah menyibukkan diri mereka dan keluarganya dengan belanja ini itu, substansi puasa yang bermakna menahan diri, justru membongkar jati diri mereka yang sebenarnya, pribadi-pribadi “produk Ramadhan” yang nampak begitu konsumtif, memborong apa saja yang mereka mampu beli. Tak terasa ratusan ribu hingga jutaan rupiah mengalir begitu saja, padahal di luar Ramadhan, belum tentu mereka lakukan. Semoga sentilan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak konsisten dengan agamanya, karena di bulan Ramadhan yang seharusnya bersemangat menahan diri dan berbagi, ternyata malah memupuk semangat konsumerisme dan cenderung boros, dapat menggugah kita dari “fatamorgana Ramadhan”.


Selain beberapa di atas tentunya masih banyak sekali hal-hal yang sering dilakukan manusia di bulan ramadhan dan tentunya bisa mengurangi pahala puasa kita. Beberapa di atas hanyalah sebagian yang penulis cantumkan untuk dijadikan bahan pembelajaran dan renungan bagi kita umat islam. Semoga Allah menganugerahi kita dengan rahmat-Nya, sehingga mampu menghindari kesalahan-kesalahan yang kerap kali menghinggapi mayoritas umat ini, amin. Hanya dengan keikhlasan, perenungan dan napak tilas Rasul, insya Allah kita mampu meng-up grade (naik kelas) puasa kita. Semoga Allah menerima ibadah yang kita lakukan…Amin