Friends

Keblinger

Keblinger

Kekeliruan Umum Selama Bulan Ramadhan


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wr.wb.

Alhamdulillah….lagi-lagi kita harus bersyukur kepada Allah swt karna berkat rahmat dan hidayahn-Nya sampai saat ini kita masih diberikan kesempatan untuk melaksanakan aktifitas sehari-hari kita sebaimana mestinya.

Shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi Muhammad saw, dial ah nabi akhir zaman, dialah sosok tauladan dan dial ah yang telah membawa islam sampai saat ini, sehingga kita bisa menikmati islam yang sebenar-benarnya. Karena bila kita kembali kepada sejarah dakwah rasulullah saw tentunya tidak mudah, banyak sekali rintangan yang beliau hadapi dalam menyebarkan ajaran islam. Ejekan, diperangi, dihina, seakan-akan sudah menjadi hal yang biasa buat beliau. Tetapi beliau tidak menyerah begitu saja, beliau selalu istiqomah dalam menyebarkan ajaran agama islam. Kita akan ingat ketika beliau berdakwah di thaif, saat itu beliau baru saja di tinggal pamanya dan istrinya Siti Khadijah yang telah dipanggil Allah swt. Dakwah beliau di Thaif ternyata tidak semudah yang kita bayangkan, ketika beliau berdakwah di daerah tersebut ternyata warga malah melempari rasulullah dengan batu sampai kaki beliau mengeluarkan darah. Tetapi beliau tetap sabar dan tidak menyerah dalam menyebarkan ajaran islam.

Hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan kondisi kita saat ini. Para ustadz atau ulama bisa dengan mudah dalam menyebarkan ajaran islam. Jarang kita lihat ustad atau ulama yang menyebarkan islam tetapi harus mendapat perlawanan dari warga. Jika dulu Rasulullah berdakwah mendapat cercaan tetapi ustad atau ulama yang berdakwah justru mendapat bingkisan. Hal itu lah yang seharusnya kita syukuri karna berkat perjuangan Rasulullah saw akhirnya kita dapat merasakan islam dengan penuh kemudahan. Maka dari itu sebagai rasa syukur kita dianjurkan untuk selalu bershalawat kepada beliau minimal satu kali dalam sehari.

Pada kesempatan kali ini saya akan sedikit berbagi tentang beberapa kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia yang berpuasa di bulan ramadhan dan akhirnya tidak mendapat pahala puasa tetapi hanya mendapat lapardan dahaga. Beberapa kesalahan-keselahan tersebut antara lain :
1.Merasa malas, loyo dan tak bergairah di bulan ramadhan
Kerap kali hal tersebut dialami oleh manusia yang sedang menjalankan ibadah puasa. Puasa selalu dijadikan alasan bagi mereka untuk bermalas-malasan dalam menjalankan aktifitas sebagaimana mestinya. Meskipun kita sedang berpuasa kita harus tetep menjalankan aktifitas kita seperti biasanya.

2. Berpuasa tetapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu
Ini penyakit yang   menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari dirinya.

3. Berpuasa tetapi tetap melakukan perbuatan yang dilarang islam.
Asal makna berpuasa bermakna menahan diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita bukan hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; Makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari.
Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang. Secara tidak sadar hal tersebut selalu ada dalam diri kita, rasa iri, tidak mampu menahan lisan dari perkataan yang tidak baik dll. Padahal hal tersebut bisa mengurangi pahala puasa kita.

4. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah)
Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah), tidak utuh.

5. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan
Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian besar  umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan. Padahal yang dimaksud tidur sebagai ibadah adalah dari pada kita melaksanakan aktifitas yang sia-sia yang sama sekali tidak bernilai ibadah seperti ngerumpi, judi, iri, dengki dan lain sebaginya maka lebih baik kita tidur saja, maka dari itu tidur dijadikan sebagai ibadah karna mampu mencegah kita dari perbuatan yang justru akan mengurangi pahala puasa kita.

6. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan (terutama untuk laki-laki muslim)
Hukum shalat fardhu secara berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain, berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid.

7. Biaya belanja & pengeluaran ( konsumtif ) selama bulan Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah)
Pada bulan ramadhan sebenenya merupakan bulan dimana kita mengurangi konsumsi kita. Akan tetapi masyarakat saat ini sangat terbalik masyarakat menganggap bahwa bulan ramadhan merupakan bulan menunda bukan bulan mengurangi. Menurut ilmu ekonomi di bulan ramadhan sebenarnya harga barang akan turun karena kurangnya masyarakat yang mengkonsumsi barang, akan tetapi karna bualn ramadhan merupakan bulan menunda makanan, makanya harga barang malah menjadi naik, bukan turun.

8. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa
Mereka lebih sibuk apa yang dipakai di hari raya dibanding memikirkan apakah puasanya pada tahun ini diterima oleh Allah Ta’aala atau tidak Orang-orang yang biasanya mengalami hal tersebut adalah orang-orang yang tertipu oleh “fatamorgana Ramadhan”, betapa tidak ? Pada hari-hari puncak Ramadhan, mereka malah menyibukkan diri mereka dan keluarganya dengan belanja ini itu, substansi puasa yang bermakna menahan diri, justru membongkar jati diri mereka yang sebenarnya, pribadi-pribadi “produk Ramadhan” yang nampak begitu konsumtif, memborong apa saja yang mereka mampu beli. Tak terasa ratusan ribu hingga jutaan rupiah mengalir begitu saja, padahal di luar Ramadhan, belum tentu mereka lakukan. Semoga sentilan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak konsisten dengan agamanya, karena di bulan Ramadhan yang seharusnya bersemangat menahan diri dan berbagi, ternyata malah memupuk semangat konsumerisme dan cenderung boros, dapat menggugah kita dari “fatamorgana Ramadhan”.


Selain beberapa di atas tentunya masih banyak sekali hal-hal yang sering dilakukan manusia di bulan ramadhan dan tentunya bisa mengurangi pahala puasa kita. Beberapa di atas hanyalah sebagian yang penulis cantumkan untuk dijadikan bahan pembelajaran dan renungan bagi kita umat islam. Semoga Allah menganugerahi kita dengan rahmat-Nya, sehingga mampu menghindari kesalahan-kesalahan yang kerap kali menghinggapi mayoritas umat ini, amin. Hanya dengan keikhlasan, perenungan dan napak tilas Rasul, insya Allah kita mampu meng-up grade (naik kelas) puasa kita. Semoga Allah menerima ibadah yang kita lakukan…Amin

Kata Imam Syafie terhadap Kenduren arwah, yasinan, tahlilan dan selamatan


Pendapat Imam Syafie terhadap kenduren arwah,  yasinan, tahlilan dan selamatan

Kenduri arwah lebih dikenal dengan berkumpul beramai-ramai dengan jamuan (makanan) di rumah simati. Kebiasaan ini dilakukan pada hari kematian, dihari kedua, ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus setahun dan lebih dari itu bagi mereka yang fanatik kepada kepercayaan ini atau kepada si mati. Mereka yang mengerjakan perbuatan ini tidak menyadari bahwa terdapat benyak fatwa dari Imam Sayfie dan ulama besar dari kalangan yang bermadzab Syafie telah melarang  dan membid’hkan perbuatan atau amalan yang menjadi budaya di masyarakat saat ini.

Di dalam kitab ( اعان ة الط البین ) juz 2. hlm. 146, tercatat larangan Imam Syafie tentang perkara yang disebutkan di atas sebagaimana ketegasan beliau dalam fatwanya:

“Dan dilarang (ditegah/makruh) menyediakan makanan pada hari pertama kematian, hari ketiga dan seterusnnya sesudah seminggu. Dilarang juga membawa makanan ke kuburan”.

Seseotrang yang berlandas aras madzab imam syafie dengan berlandaskan atas hadist – hadist sahih mereka mengatakan bahwa yang seharusnya menyediakan makanan untuk si mayit adalah tetangga atau kerabat si mayit bukan keluarga si mati. Yhal ini juga didukung oleh hadist yang artinya :

“Abdullah bin Ja’far berkata: Ketika tersebar tentang berita terbunuhnya Ja’far, Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Hendaklah kamu menyediakan makanan untuk  keluarga Ja’far, mereka telah ditimpa keadaan yang menyebukkan (kesusahan)”.

Menurut Imam Syafie adalah melarang dengan mengadakan kenduri arwah semacam ini dan menikmati hidanga di rumah keluarga si mati, apa lagi jika keluarga si mati merupakan keluarga yang miskin, menanggung beban hutang. Apa lagi ketika mereka kan mengadakan acara seperti tersebut dan akhirnya harus pinjam (menghutang) kepada tetangganya dan justru malah menambah beban si mayit, hal seperti ini tentunya sangat tidak di anjurkan. Telah dinyatakan juga di dalam kitab ( اعانة الطالبین ) jld. 2. hlm. 146, yang artinya :

“Imam Syafie berkata: Dibenci bertetamu dengan persiapan makanan yang disediakan oleh ahli si Mati kerana ia  adalah sesuatu yang keji dan ia adalah bid’ah”.

Hal ini juga didukung oleh perkataan Imam Sayfie yang artinya :
“Dan antara bid’ah yang mungkar ialah kebiasaan orang yang melahirkan rasa kesedihannya sambil berkumpul  beramai-ramai melalui upacara (kenduri arwah) dihari keempat puluh (empat pulu harinya) pada hal semuanya ini adalah dilarang”.

Ini bermakna mengadakan kenduri arwah (termasuk tahlilan dan  yasinan beramai-ramai) dihari pertama kematian, dihari ketiga, dihari ketujuh, dihari keempat puluh, dihari keseratus, setelah setahun kematian dan dihari-hari seterusnya sebagaimana yang diamalkan oleh masyarakat Islam sekarang adalah perbuatan dilarang dan bid’ah menurut fatwa Imam Syafie. Oleh itu, mereka yang  bermazhab Syafie sewajarnya menghentikan perbuatan yang dilarang dan bid’ah ini sebagai mematuhi wasiat imam yang agung ini.

Kenduri arwah pada hakikatnya lebih merupakan tradisi dan kepercayaan untuk mengirim pahala bacaan fatihah atau menghadiahkan  pahala melalui pembacaan al-Quran terutamanya surah yasin, zikir dan berdoa beramai-ramai yang ditujukan kepada arwah si Mati. Bacaan seperti yang dinyatakan di atas adalah persoalan besar yang  melibatkan akidah dan ibadah. Wajib diketahui oleh setiap orang yang beriman bahwa masalah akidah dan ibadah tidak boleh dilakukan secara suka-suka (tanpa ada  dalil dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya), tidak boleh berpandukan pada anggapan yang disangka baik lantaran ramainya masyarakat yang melakukannya, kerana Allah Swt telah memberi amaran yang tegas kepada mereka yang suka meniru perbuatan orang ramai yang tidak ada dalil atau suruhannya dari syara sebagaimana firmanNya:

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan  orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan  menyesatkan diri kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)". (QS. Al-An'am, 6:116)

Begitu juga sesuatu amalan yang disangkakan ibadah sama ada yang dianggap wajib atau sunnah, maka ia tidak boleh ditentukan oleh akal atau hawa nafsu, antara amalan tersebut ialah amalan kenduri arwah (tahlilan atau yasinan) maka lantaran ramainya orang yang mengamalkan  dan adanya unsur-unsur agama dalam amalan tersebut seperti bacaan al-Quran, zikir, doa dan  sebagainya, maka kerananya dengan mudah diangkat dan dikategorikan sebagai ibadah. Sedangkan kita hanya dihalalkan mengikut dan mengamalkan apa yang benar-benar telah disyariatkan oleh al-Quran dan as-Sunnah jika ia dianggap sebagai ibadah sebagaimana firman Allah swt:

"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan yang wajib ditaati) dalam   urusan (agamamu)  itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (orang jahil). Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak  diri kamu sedikitpun dari siksaan Allah". (QS. Al-Jatsiyah, 45:18-19)

Mengadakan majlis kenduri yaitu dengan berkumpul beramai-ramai  terutamanya untuk berzikir, tahlilan, membaca surah Yasin atau kenduri  arwah sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Nusantara di rumah si Mati atau memperingati kematian, maka semuanya itu benar-benar dihukum bid'ah yang mungkar oleh Imam Syafie sebagaimana fatwa-fatwa beliau dan para ulama yang bermazhab Syafie yang selanjutnya:

"Adapun menyediakan makanan oleh keluarga si Mati dan berkumpul beramai-ramai di rumah (si Mati) tersebut maka itu adalah bid'ah bukan sunnah".

Jika dipertimbangkan mengikut logika akal, amalan membaca  fatihah atau membaca ayat-ayat al-Quran kemudian menghadiahkan pahala bacaannya kepada si Mati (arwah), tentulah tidak ada salahnya,  malah ia menggambarkan suatu perbuatan yang baik, bagus dan mulia. Begitu juga dengan membaca al-Quran dengan mengadakan kenduri arwah, tahlilan atau yasinan beramai-ramai atau berseorangan, sama ada yang dikhususkan di malam-malam tertentu, di hari-hari tertentu, di bulanbulan  tertentu atau di tempat-tempat tertentu seperti di atas kubur dan sebagainya, pastinya sekali pandang perbuatan ini adalah baik, malah menggambarkan pekerjaan terpuji kerana antara tujuannya ialah untuk  menghapuskan dosa seseorang (roh orang mati) di samping mengirim pahala yang dibaca oleh orang yang ramai kepada si mati untuk mengurangkan penderitaannya. Namun, apabila dikembalikan kepada syara ia adalah perbuatan bid’ah yang mungkar.

Ada yang berpendapat bahwa bacaan yasin kepada si mati merupakan amalan yang bisa menghapuskan dosa si mati, seperti yang tertera pada hadist di bawah ini :

“Barangsiapa yang menziarahi kubur orang tuanya atau  salah seorang dari keduanya pada hari Jumaat, kemudian  membacakan surah Yasin, maka akan diampunkan dosanya".

Hadis di atas ini adalah hadis batil, palsu atau tidak ada asal usulnya. Terdapat di dalam sanadnya seorang yang bernama 'Amar yang  dikenali sebagai pemalsu hadis dan banyak meriwayatkan hadis-hadis yang batil.

Imam Muzani mengatakan bahwa "Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam telah memberitahu sebagaimana Allah memberitahu: Bahawa dosa tiap-tiap orang adalah buat kecelakaan dirinya sendiri sebagaimana amalannya itu buat kebaikan dirinya sendiri bukan untuk kecelakaan orang lain". Hal tersebut berarti bahwa setiap kebaikan yang dilakukan setiap orang akan menjadi kebaikan untuk dirinya sendiri, dan keburukan yang dilkaukan setiap orang adalah untuk dirinya sendiri.

“Mayat tidak boleh dibacakan al-Quran sebagaimana keterangan yang ditetapkan oleh orang-orang terdahulu, bahawa bacaan al-Quran pahalanya tidak sampai kepada si Mati, lantaran pahala bacaan hanya untuk si Pembaca. Pahala  amalan pula tidak boleh dipindah-pindahkan dari si Pembuat berdasarkan firman Allah Ta’ala: Dan manusia tidak memperolehi pahala kecuali dari amalan yang dikerjakannya sendiri”.

Amalan mengadakan kenduri arwah dengan pembacaan surah al-Fatihah, Surah al- Ikhlas, Surah al-Falaq, surah an-Nas, surah Yasin dan beberapa ayat yang lain secara beramai-ramai amat bertentangan dengan nas al-Quran, hadis-hadis walaupun dasarnya baik yaiyu membaca ayat-ayat al-qur’an. Membaca al-Quran berjamaah (beramai-ramai) dengan mengangkat suara sehingga tidak ketahuan bunyi bacaan dan siapa pendengarnya telah ditegah oleh Allah di dalam firmanNya:

“Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-A’raf, 7:204)

Begitu juga al-Quran diturunkan dari langit bukan untuk dibacakan kepada orang yang sudah mati, tetapi untuk orang yang masih hidup dan wajib dibaca oleh mereka yang masih hidup, kerana orang mati sudah tidak mampu lagi mendengar perintah al-Quran sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar”. (QS. An-Naml, 27:80)

“Dan tidak sama orang-orang yang hidup dan orangorang yang mati, sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang dalam kubur dapat mendengar”.

Nabi Muhammad saw telah bersabda bahwa jika seseorang telah meninggal maka putus hubunganya di dunia ini serta putus pula semua amal perbuatanya kecuali, Amal shadaqah, ilmu bermanfaat dan anak soleh. Yang dimaskud anak soleh disini yaitu anak yang selalu menjalankan perintah Allah dan tidak pernah mengingkarinya serta patuh terhadap syariat yang telah di tetapkan oleh Allah dan rasul-Nya. karena anak yang soleh itu merupakan jerih payah usaha semasa di hidupnya.

Jika kita mau mengkaji lebih dalam bahwa yasinan dan tahilalan secara beramai-ramai di rumah si mati merupakan budaya yang dilakukan dilakukan oleh orang-orang hindu terdahulu. Mereka memperingati hari kematian si mati dengan cara berkumpul di rumah korban dengan bacaan-bacaan kepercayaan mereka, menggunakan sesaji dan menghidangkan minuman semacam minuman keras. Lalu kemudian pemuka agama terdahulu ingin merubah kebiasaan tesebut dengan melakukan kegiatan yang sama namun dengan bacaan-bacaan yang bernafaskan islam dan mengganti sesaji dan minuman keras dengan makanan-makanan yang menyehatkan. Lalu kemidian kebiasaan seperti ini terus berkembang dan selalu dilakukan karena sudah menjadi budaya yang beredar di masyarakat, padahal ulama terdahulu hanya ingin merubah kebiasaan buruk dengan kebiasaan yang bernafaskan oleh islam, itu merupakan dakwah ulama terdahulu dalam menyebarkan islam.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk memecah belah antar umat islam melainkan hanya dalam rangka untuk menyebarkan ajaran islam.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembaca dan bagi masyarakat muslim di Nusantara.

Kejaiban Sedekah


Keajaiban Sedekah

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih maha penyayang . .

Puji syukur sudah selayaknya kita ucapkan kehadirat Allah swt karena berkat rahmat dan karunia-Nya kita masih diberikan kesehatan serta  kekuatan sehingga kita bisa melakukan aktivitas kita  sehari-hari. Alhamdulillah.

Yang saat ini sedang dilanda masalah atau dalam keadaan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, semoga Allah mempermudahnya dan diselesaikan semua masalah, percayalah itu hanya sedikit cobaan yang diberikan Allah kepada kita sebagai hamba-Nya. Semoga kita selalu berprasangka baik terhadap-Nya..Amin..

Pada kesempatan kali ini penulis ingin berbagi sedikit tulisan mengenai keajaiban sedekah. Tak banyak orang yang tau tentang keajaiban sedekah itu sendiri, tetapi keajaiban tersebut akan kita rasakan tatkala kita merasa tentram berada dekat dengan-Nya.

Banyak sekali ayat Al-qur’an dan hadist yang menganjurkan kita untuk bersedekah seperti yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani bahwa rasulullah saw bersabda “ bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang” sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana”.

Rasulullah menganjurkan umatnya untuk selalu bersedekah dalam melindungi hartanya. Tapi fakta nyata yang kita lihat saat ini, orang-orang melindungi hartanya bukan dengan sedekah melainkan dengan hal-hal yang berbahaya dan merepotkan. Contohnya seperti rumah yang dipagari tinggi-tinggi dan diberi pecahan kaca (beling) supaya tidak kemalingan,  dipasang CCTV supaya kalau kemalingan maling tersebut bisa terdeteksi, belum selesai sampai disitu,  tapi masih menyewa satpam untuk melindungi hartanya dari  maling, masih belum selesai juga, kemudian memelihara anjing pelacak untuk melacak maling kalo akhirnya kemalingan. Semua sangat lengkap dan serba canggih hanya karna untuk melindungi hartanya.

Sesungguhnya seseorang yang memahami keajaiban sedekah  tidak perlu melakukan hal tersebut karena ketika kita selalu bersedekah dengan mengharap ridho Allah, Allah sendiri lah yang akan menjaga harta kita. Permasalahanya adalah kita malas bersedekah hingga akhirnya Allah mengambil paksa harta yang kita miliki. Yakinkanlah bahwa semua harta  yang kita miliki adalah harta yang dititipkan Allah kepada kita, sehingga ada sebagian harta dari kita adalah hak mereka.

Terkadang kita akan lupa akan hal demikian sehingga akhirnya Allah mengambil secara paksa harta/sesuatu dari kita. Kita mungkin sering mengalami kehilangan sesuatu yang kita sayangi, baik itu kehilangan uang, barang ataupun yang lainya. Hingga akhirnya tak jarang pula kita mengeluh kepada Allah, berprasangka buruk kepada Allah, kenapa punyaku saja yang hilang ?kenapa punya dia tidak hilang ? Astagfirullah..... bisa jadi hal demikian itu karna kita kurang sedekah, kita diberi nikmat oleh Allah, akan tetapi kita lupa bersyukur akan nikmat yang diberi, jangan salahkan bila sewaktu-waktu Allah mengambil secara paksa harta dari kita.

Hakikat sedekah pada dasarnya seperti ilmu matematika (hitungan pembagian), tatkala kita sedekah 1 dan mengharap balasan 1, kita akan mendapat 1. Ketika kita sedekah 1 dan mengharap balasan 10 kita hanya akan mendapat 0,5. Akan tetapi ketika kita sedekah 1 dan tanpa mengaharap balasan alias nol (0), insya Allah, Allah akan membalasnya dengan tak terhingga... Insya Allah. Sedekah tidak berkaitan dengan mengaharap balasan, akan tetapi ketrentaman hati, hal tersebut merupakan nikmat yang sangat luar biasa.

Ketika kita dalam kesusahan maka bersedekahlah, ketika sedang sakit maka bersedekahlah, dan ketika Allah sedang menguji kita maka bersedekahlah. Kuncinya adalah posisikan niat hanya untuk mengharap ridho Allah swt dan yakin Allah akan membalas dengan berlipat ganda, Insya Allah karna Allah maha kaya.

Tulisan ini merupakan sebagian kecil dari keajaiban sedekah, masih banyak sekali keajaiban sedekah yang masih belum kita sadari. Semoga kita sebagai umat muslim membiasakan diri untuk mulai gemar bersedekah, jadikanlah sedekah sebagai kebutuhan kita sehari-hari dan gaya hidup umat islam....Insya Allah...

Apakah ada do'a yang tak dijawab oleh Allah ?

Apakah ada do’a yang tak dijawab oleh Allah ?

Kenapa do’a saya tidak kabulkan/dijawab tuhan ? apa salah saya ? apakah Allah tidak sayang kepada saya ?

Ungkapan semacam ini sering skali keluar bagi setiap manusia yang merasa do’anya tidak dijawab oleh Allah swt, apalagi saat dihadapkan oleh masalah seperti mencari pekerjaan tetapi belum dapat juga, sedang sakit tetapi tidak kunjung sembuh, udah pesen tempat buat kegiatan tetapi ketika beberapa hari mendekati kegiatan ternyata pihak gedung menginformasikan gedung tersebut dipakai oleh kegiatan pemerintahan dan kita harus mencari gedung yang lain, dan sebagainya . kadang kita mengalami hal yang tidak sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan.

Koreksi diri masing-masing sehingga kita berpikir kenapa tuhan belum manjawab/mengabulkan do’a kita adalah langkah yang sangat positif. Yang justru salah adalah ketika kita berburuk sangka atas suatu hal yang diberikan Allah kepada kita. Kemana tuhan ini ?kenapa tidak mengabulkan do’aku ?apakah Allah tidak sayang?. Nah mari kita hentikan ungkapan seperti ini yang kemudian malah menyalahkan tuhan. Tuhan tidak pernah salah atas apa yang telah diberikan kepada kita.

Pada intinya tidak ada do’a yang tidak dijawab oleh Allah. Seakan-akan bahwa tuhan tidak mendengar do’a kita. Ketahuilah bahwa Daud pernah berkata bagaimana mungkin tuhan tidak mendengar do’a anda karna Dia lah yang menciptakan telinga. Allah lebih mengetahui apa yang kita butuhkan dari pada apa yang kita inginkan. Tidak semua yang kita inginkan akan dikabulkan oleh Allah, atau jangan-jangan menurut Allah kita belum membutuhkan apa yang kita inginkan, ingat Allah lebih mengetahui dari kita.

Langkah tepat yang harus kita lakukan ketika Allah belum mengabulkan do’a kita adalah dengan koreksi diri. Meskipun fisik kita beribadah jangan-jangan hati kita tidak beribadah ? meskipun kita sekolah/mencari ilmu jangan-jangan tujuan kita mencari ilmu hanya untuk medapatkan pekerjaan, menjadi PNS mungkin, dll,  tetapi tidak kita niatkan untuk mencari ridho Allah SWT.  Lebih mendekatkan diri kepada Allah swt selalu istiqomah, dan segala hal yang dilakukan mari kita bulatkan semata-mata hanya untuk mencari ridho Allah swt. Insya Allah itu akan lebih baik dari pada menyalahkan Allah.

Allah mempunyai cara sendiri untuk menaikan derajat keimanan para hamba-Nya. bisa jadi ketika Allah belum mengabulkan do’a kita karna Allah sedang menguji kesabaran kita. Tatkala kita lolos ujian tersebut maka beruntunglah, tatkala tidak lolos atau bahkan menyalahkan tuhan maka celakalah. Kuatkanlah iman, sehingga kita mampu menjadi hamba yang selalu berprasangka baik kepada Allah swt.. Aminnn..

APA TUJUAN HIDUP KITA ?


Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

APA TUJUAN HIDUP KITA ?

Pertanyaan ini seharusnya ada pada tiap diri manusia, dan banyak dari kita kadang merasa tidak tahu (bingung) seharusnya apa tujuan hidup kita. Apakah tujuan kita ini hanya untuk sekedar hidup ? atau mungkin tujuan kita ini hanya untuk mencari uang (bekerja) ? “yang penting sih aku bisa cari uang untuk keperluanku sehari-hari” kadang kita mengatakan hal demikian .

Lantas apa bedanya kita dengan babi dan kera ? “kalau hidup hanya sekedar hidup babi di hutan juga hidup, kalau hidup hanya sekedar kerja kera juga kerja” kata Buya Hamka. Allah telah memberikan kenikmatan yang luar biasa terhadap tiap manusia yaitu berupa akal pikiran, yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Kita bisa membedakan mana yang baik dan buruk, bermanfaat atau tidak dan lain-lain. Ini adalah karunia yang sangat luar biasa yang Allah berikan kepada semua manusia. Dan tidak dimiliki oleh makhluk lain. Hal demikian menandakan bahwa Allah begitu sayang terhadap hamba-Nya (manusia) .

Kemudian apa balasan kita terhadap hal tersebut. Kadang kita masih merasa ragu untuk menyembah-Nya, kadang kita masih jarang untuk meluangkan waktu bersujud kepada-Nya dan kadang kita melakukan hal yang dilarang oleh-Nya, judi, mabuk, mencuri, khianat, gila dunia, pacaran, berdua-duaan, berpegangan tangan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dan masih banyak yang lainya.

kalau emang demikian lalu apa bukti kalimat Syahadatain kita. ? Ashaduanla ilahaillallah wa’ashaduana muhammadarrasullullah “Ya Allah aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang layak disembah kecuali engkau, dan Muhammad adalah utusan engkau” mengucapkan hal tersebut sangatlah mudah bagi kita, tapi bukti tindakan nyata dari kalimat tersebut sangat jarang/sulit kita lakukan. Syahadat adalah gerbang untuk memasuki islam, dan ketika kita mengucapkanya berarti kita sudah masuk dalam bahasan islam dan berkewajiban untuk patuh terhadap aturan islam. Seperti kita sedang masuk dalam sekolah/perguruan tinggi maka kita wajib mematahi peraturan yang ada pada lembaga tersebut.    

Coba kita renungkan sekali lagi, apa kita masih melakukan hal yang dilarang di atas tadi, kalau memang masih demikian berarti masih dipertanyakan kualitas syahadat yang kita ucapkan serta shalat yang kita kerjakan. Apa kita kurang bisa memaknai/meresapi kalimat syahadat atau mungkin kita masih belum bisa berserah diri secara total terhadap Allah Swt (Shalat).

Apa tujuan hidup kita ? kita masih terbelenggu oleh kenikmatan dunia yang hanya sementara, segala upaya kita lakukan untuk membuat hidup di dunia menjadi sangat indah. Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa umur manusia tidak akan jauh beda dari Nabi Muhammad Saw. Jadi kalau kita simpulkan dan ambil rata-rata kita hidup di dunia paling lama hanyalah 70 Tahun, kalau masih ada manusia yang lebih 70 Tahun Alhamdulillah, berarti Allah memberikan umur panjang. Tetapi jarang manusia yang sanggup melebihi dari 70 tahun, maka dari itu di ambil rata-rata setiap manusia paling lama hanya 70 tahun.

Setelah kita meninggal kita akan memasuki di alam yang selanjutanya yaitu alam barzakh (kubur), yang lamanya sekitar 7.000 tahun. Tidak berhenti sampai disini setelah kita di alam barzakh seluruh manusia yang pernah hidup akan dikumpulkan di Padang Mahsyar selama 1 hari yang berbanding 50.000 tahun di dunia. Setelah itu kita akan masuk ke dalam Neraka atau Surga.

Mari kita renungkan dari awal. Apa yang kita lakukan untuk membuat 70 tahun di dunia menjadi sangat indah ? cari duit terus yang penting aku punya duit untuk biaya hidupku, tidak tau halal haram yang penting kita dapat duit, pacaran, judi, minum-minuman keras (mabok), suka berbohong, nogomongin cinta terus baik laki-laki maupun perempuan, melakukan hal yang dilarang oleh Islam,  dan sebagainya. Segala macam hal kita lakukan untuk membuat 70 tahun menjadi sangat indah dan tidak bisa kita lupakan keindahan tersbut dalam kehidupan kita.

Lalu apa yang sudah kita siapkan untuk menghadapi 7.000 tahun ? apa yang sudah kita siapkan untuk 50.000 tahun menjadi indah. Sudahkah kita melaksanakan segala hal yang diperintah serta yang dilarang-Nya? masih kah kita melakukan hal di atas ? mari kita renungkan kembali saudara – saudaraku.
”Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku..”(QS Adzdzariyat :56)”.

Mari kita sedikit mengurangi urusan dunia kita untuk keperluan akhirat kita, kita di dunia kurang lebih hanya 70 tahun, janganlah waktu yang sangat singkat ini kita gunakan untuk hal yang sia-sia dan tidak bernilai ibadah di mata Allah. Kita koreksi diri kita masing-masing apakah kita sudah total untuk bertauhid kepada Allah serta benar-benar ber-Islam. Masih ada hal yang harus kita kejar yaitu akhirat kita. Mari kita buktikan kualitas sayahadat kita.

Uraian singkat di atas hanya sekedar mengingatkan antar sesama umat manusia khususnya untuk umat Islam, bukan berarti bahwa penulis merasa paling benar dan paling baik. Penulis sangat merasakan kekurangan dalam diri dan masih harus mendekatkan diri kepada Allah swt.

Kita sama-sama berjuang di jalan Allah karena setiap manusia punya tanggung jawab untuk menjadi yang terbaik di mata Allah. Tinggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak bernilai ibadah, sesungguhnya hal demikian lah orang –orang yang beruntung . . Insya Allah.

Terakhir . . .

Apa tujuan hidup kita ? setiap manusia pasti memiliki jawabanya masing-masing, entah itu untuk duniawi, akhirat atau bahkan dunia akhirat. Semoga kita mendapat nikmat dunia dan akhirat. Amin .....

silahkan direnungkan kembali . . . .
Apa tujuan hidup kita ?