Friends

Keblinger

Keblinger

22 Mahasiswa/i Resmi Gabung IMM


SAMPIT - Sebanyak 22 Mahasiswa/i yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Ekonomi dan Bimbingan Konseling STKIP Muhammdiyah Sampit, akhirnya resmi gabung IMM.

Mereka resmi menyandang gelar IMMawan dan IMMawati setelah mengikuti proses perkaderan Darul Arqam Dasar (DAD) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Komisariat (Pikom) IMM Djasman Alkindi STKIP Muhammadiyah Sampit pada tanggal 2-6 September 2016 di Balai Penataran Guru (BPG) Kabupaten Kotawaringin Timur, Propinsi Kalimantan Tengah.

Perkaderan IMM selain membiasakan kader untuk selalu taat beribadah, juga memberikan banyak pengetahuan baru, melatih kekompakan serta belajar untuk berpikir kritis. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh salah satu peserta pada  penyampaian pesan dan kesan selama mengikuti DAD. “Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk mengikuti DAD. Selain membiasakan shalat tepat waktu, Kami juga mendapatkan banyak ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Kami juga mampu melatih kerja dalam kelompok dan berpikir kritis.” Ujarnya   

Sedangkan Ketua Pikom IMM Djasman Alkindi STKIP Muhammadiyah Sampit IMMawan Risno Rahmat Ihtiar berpesan kepada kader baru agar menjadi kader yang militan. Yaitu kader yang mampu memperjuangkan IMM dan membawa IMM kearah yang lebih baik.

Hadir pula dalam kegiatan ini Ketua Umum PC IMM Kotawaringin Timur IMMawati Ayu Oktarizza yang sekaligus menjadi Master Of Training. Beliau berpesan bahwa “”,Memilih IMM bukan hanya sekedar memilih tempat untuk berorganisasi atau berkegiatan, tetapi memilih prinsip hidup. Maka kader yang telah mengikrarkan diri bersama IMM harus menghidupkan IMM dalam diri kader. Maka berperilakulah sesuai prinsip IMM dan teruslah “kepo” pada sesuatu agar kita selalu ingin mencari tahu", katanya.

Perlu diketahui bahwa DAD adalah perkaderan tingkat pertama di IMM yang menjadi syarat utama untuk menjadi anggota IMM. Pada DAD kali ini tema yang diusung adalah “Menciptakan Kader IMM yang Berprinsip Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah dalam Mewujudkan Cita-cita Ikatan”. Kader IMM menyadari bahwa keberadaan IMM bertujuan untuk mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.


DAD adalah salah satu upaya untuk menciptakan akademisi islam yang berakhlak mulia sehingga mampu menciptakan generasi pemegang estavet kepemimpinan selanjutnya baik di IMM, maupun di Muhammadiyah.  Untuk itu penanaman nilai-nilai dan identitas IMM sangat dibutuhkan dalam forum perkaderan seperti ini , dengan nilai tri kompetensi dasar yang dimiliki IMM yaitu religiusitas, intlektualitas, dan humanitas, kader IMM akan bisa mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dengan seimbang sebagai basis gerakan. Sehingga dimasa yang akan datang terbentuklah kader-kader Muhammadiyah yang siap mengemban amanah persyariakatan dengan sebaik-baiknya. “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah” begitulah pesan singkat dari KH Ahmad Dahlan kepada kader Muhammadiyah.

Bolehkah Aku Memanggilmu Ayah ?

Segala rutinitas yang mengantarkan aku pada kesibukan mengurus karier, uang, dan kekuasaan (pekerjaan), boleh jadi telah mengeraskan hatiku. Terlebih lagi jabatanku di perusahaan yang semakin strategis dan menuntut tanggung jawab besar. Aku sadari juga ternyata itupun menjauhkan diriku dari nilai-nilai ukhrawi yang sejak kecil ditanamkan oleh kedua orang tuaku. Dan, ternyata di satu masa, hal-hal yang berbau agamis hilang begitu saja digulung menjauh dari relung kalbu.
Saat ini, aku sudah berkeluarga dengan dua orang putra-putri yang boleh kubanggakan. Kata orang aku tampan dan brilliant. Istriku wanita karier yang tidak saja cantik dan pintar, tapi juga lemah lembut keibuan. Pendeknya, rumah tanggaku dikaruniai kebahagiaan. Alhamdulillah...
Selama ini banyak hal-hal yang bersifat sosial diurus dengan baik oleh istriku. Bantuan untuk anak yatim, rumah jompo, anak cacat, pembangunan masjid, sekolah, dan lain-lain. O ya termasuk mengalokasikan dana dari gaji kami untuk zakat, kurban, infak, dan sedekah. Aku sih tinggal menerima laporan saja. Pokoknya tugas utamaku adalah mencari uang. Karena bukankah hanya dengan uang kita bisa menyelesaikan semua masalah?
Walau kadang-kadang istriku mengingatkan aku agar tidak terlalu keras bekerja. Aku cuma tersenyum kecut. Memangnya dari mana semua kemewahan bisa diperoleh kalau tidak bekerja keras? Dari mana semua kebutuhan hidup dapat diraih kalau bukan dengan uang?
Namun demikian, pandanganku soal materi lenyap begitu saja ketika sore itu aku menemani istriku menyantuni anak-anak yatim di sebuah panti asuhan di pinggiran kota Jakarta. Panti asuhan suram, kotor, dan penuh dengan anak-anak kurus, pucat, dan bau. Pakaian yang dikenakan mereka sudah tak layak pakai lagi. Mengapa sih istriku tidak mencari tempat santunan yang lebih bersih gitu? Yang anak-anaknya lebih manis-manis, bersih, dan beradab. Huhh... tahu begini malas deh aku nganterin!
Saat itu, acara kami bersilaturrahmi di panti asuhan sudah hampir selesai. Semua anak sudah dibagikan pakaian baru, perlengkapan sekolah, dan sejumlah buku cerita dan majalah anak-anak. Makanan, minuman, serta sejumlah uang tunai yang dititipkan kepada ibu asrama cukup untuk konsumsi sebulan panti.
Aku bersiap-siap hendak ke mobil, ketika seorang anak perempuan sebaya Salsabilla, putriku berusia tujuh tahun, takut-takut mendekatiku.
”Om....” tanyanya ragu.
”Ya, ada apa sayang?” aku mencoba ramah. Kulihat dia tidak seperti anak lainnya. Kulitnya sawo matang bersih dan wajahnya cantik. Matanya yang berbinar menunjukkan kecerdasan dan kemurnian hati.
”Om, bolehkah saya meminta sesuatu?”
”Mau minta apa lagi?” jawabku terdengar agak ketus. Aku kaget juga mendengarnya.
”Eh.... ee, maksud Om, apa lagi yang kamu butuhkan?” kucoba memperbaiki diri saat kulihat bola matanya mulai digenangi air mata.
”Bo-bolehkan sasa-saya minta se..se..suatu?” tanyanya terbata dengan suara nyaris hilang diembus angin.
”Tentu saja boleh, Sayang. Mau boneka Barbie?” aku teringat Salsa yang mengoleksi lengkap dengan rumah, pakaian, dan pernik-pernik lainnya. Tapi gadis kecil ini menggelengkan kepala.
”Hmmm..., sepatu baru mungkin?” aku mencoba mulai bermain teka-teki. Dia masih tetap menggeleng.
”Atau sebuah sepeda mini?” Tapi tetap saja dia menggeleng. Aku jadi kesal. Mau minta apa sih? Uang barangkali, omelku dalam hati.
”Apa Om enggak marah?” tanyanya takut-takut. Aku menggeleng menyejajarkan pandanganku dengan matanya sambil memegang kedua bahunya.
”Katakan sayang, mau minta apa?”
”Mmm, mmm, bolehkah saya memanggil Om, ayah?” tuturnya dengan penuh keraguan. "Saya, saya tidak pernah punya ayah. Kata Ibu Tien, kepala panti, Bapak mati ditabrak kereta api waktu saya masih di dalam perut Emak. Saya kepingin sekali punya ayah. Bolehkah saya memanggil Om, ’Ayah’?”
Duhai Allah... ada apa ini? Mengapa seorang anak panti tidak tertarik dengan benda-benda mahal yang kutawarkan kepadanya? Dia hanya ingin memanggilku Ayah. Aku tak pernah menangis. Kehidupan yang keras telah mengajariku lupa menitikkan air mata, pun saat shalat yang hanya sekali-sekali kulakukan. Itu pun saat Ramadhan dan berbuka puasa bersama para relasi dan kerabat.
Tapi saat ini hatiku terguncang hebat. Allah SWT secara telak mengalahkanku. Astaghfirullah al’-azhiim... Kupeluk dia erat-erat, ”Tentu saja sayang, kamu boleh memangilku Ayah”.
”Betul?” wajahnya menyiratkan rasa tidak percaya namun bahagia. Kami berpelukan beberapa saat.
”Ayah, bolehkah saya minta satu lagi?” aku mengangguk.
”Bolehkah saya minta foto Ayah, Ibu, dan Kakak-kakak? Saya akan kasih lihat teman-teman di sekolah bahwa saya juga punya keluarga sama seperti mereka. Boleh?”


Bacaan Dzikir Sesuai Tuntunan Rasulullah



Bacaan Dzikir Sesuai Tuntunan Rasulullah

Pertama:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ (3x)
اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.

Astaghfirullah (3x). Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.

“Aku minta ampun kepada Allah,” (3x). Lantas membaca: “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

Keterangan: HR. Muslim no.591 (135), Ahmad (V/275,279), Abu Dawud no.1513, an-Nasa-i III/68, Ibnu Khuzaimah no.737, ad-Darimi I/311 dan Ibnu Majah no.928 dari Sahabat Tsauban radhiyallaahu ‘anhu.

Kedua:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Allahumma laa maani’a lima a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfau dzal jaddi minkal jaddu.

“Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.”

Keterangan: HR. Al-Bukhari no.844 dan Muslim no.593, Abu Dawud no.1505, Ahmad IV/245, 247, 250, 254, 255, Ibnu Khuzaimah no.742, ad-Darimi I/311, dan An-Nasa-i III/70,71, dari  Al-Mughirah bin Syu’bah.

Ketiga:
                              
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyah. Lahun ni’mah wa lahul fadhl wa lahuts tsanaaul hasan. Laa ilaha illallah mukhlishiina lahud diin wa law karihal kaafiruun.

“Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepadaNya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci.”

Keterangan: HR. Muslim no.594, Ahmad IV/ 4, 5, Abu  Dawud no. 1506, 1507, an- Nasa-i III/70, Ibnu Khuzaimah no.740, 741, Dari ’Abdullah bin az-Zubair Rahimahullah.

Keempat :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. 10× بعد صلاة المغرب والصبح

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumiit wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir .

“Tiada Rabb yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 10 x setiap sesudah shalat Maghrib dan Subuh)

Keterangan: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa setelah shalat Maghrib dan Shubuh membaca ‘Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, yuhyiy wa yumiytu wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir,’  sebanyak 10x Allah akan tulis setiap satu kali 10 kebaikan, dihapus 10 kejelekan, diangkat 10 derajat, Allah lindungi dari setiap kejelekan, dan Allah lindungi dari godaan syetan yang terkutuk.” (HR. Ahmad IV/227, at-Tirmidzi no.3474). At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan gharih shahih.”

Kelima :

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allahumma a-’inniy ’ala dzikrika wa syukrika wa husni ’ibaadatika.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.”

Keterangan: HR. Abu Dawud no.1522, an-Nasa-i III/53, Ahmad V/245 dan al-Hakim (I/273 dan III/273) dan dishahihkannya, juga disepakati oleh adz-Dzahabi, yang mana kedudukan hadits itu seperti yang dikatakan oleh keduanya, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan wasiat kepada Mu’adz agar dia mengucapkannya di setiap akhir shalat. 

 Keenam:

سُبْحَانَ اللهِ + الْحَمْدُ لِلَّهِ + اللهُ أَكْبَرُ (33 ×) لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

Subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar (33 x). Laa ilaha illallah wahda, laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

“Maha Suci Allah + segala puji bagi Allah + dan Allah Maha Besar (masing diucapkan 33 x). Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan. BagiNya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Keterangan:Barangsiapa membaca kalimat tersebut setiap selesai shalat, akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti buih di lautan.” HR. Muslim no.597, Ahmad II/371,483, Ibnu Khuzaimah no.750 dan al-Baihaqi II/187).

Ketujuh :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir.

"Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Keterangan:Barangsiapa membaca kalimat tersebut setiap selesai shalat, akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti buih di lautan.” HR. Muslim no.597, Ahmad II/371,483, Ibnu Khuzaimah no.750 dan al-Baihaqi II/187).

Kedelapan:
Membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq dan al-Naas

Keterangan: HR Abu Dawud no.1523, an-Nasa-i III/68, Ibnu Khuzaimah no.755 dan Hakim I/253. Lihat pula Shahiih at-Tirmidzi III/8 no.2324. Ketiga surat tersebut dinamakan al-Mu’awwidzaat. 
 
Kesembilan:

Membaca Ayat Kursi (al-Baqarah: 255)

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allaahu laa ilaaha illaa huu, al hayyul qoyyum, la ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardh. Man djalladjii yasyfa’u ’indahuu illa bi idjnih. Ya’lamu maa bayna aydiihim wa maa kholfahum. Wa laa yuhiithuuna bi syay-im min ’ilmihii illa bi maa syaa-a. Wasi’a kursiiyyuhussamaawaati wal ardh. Walaa ya-uuduhuu hifzhuhumaa. Wa huwal’aliiyul ’azhiim.

”Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
(Al-Baqarah: 255)

Keterangan:Barangsiapa yang membacanya setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk Surga selain kematian.” HR. An-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah’ no.100 dan Ibnus Sunni no.124 dari Abu Umamah rahimahullah, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani.
 
Kesepuluh:
Membaca shalawat dan dilanjutkan dengan doa-doa lain sesuai keperluan, antara lain doa misalnya:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.

Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyiba, wa ‘amalan mutaqobbala.

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima.” (Dibaca setelah salam shalat Shubuh)


Laskar Al Maun : Peduli dan Mencerahkan

GAMBARAN UMUM DAN BENTUK KEGIATAN LASKAR AL MAUN

A.     Gambaran Umum
Manusia sebagai makhluk sosial tentu tidak mungkin bisa memisahkan hidupnya dengan manusia lain. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi membutuhkan manusia lain dalam beberapa hal tertentu, dan haruslah saling menghormati, mengasihi, serta peduli terhadap berbagai macam keadaan disekitarnya. Karena pada hakikatnya manusia tidak bisa hidup sendiri. Ada ketergantungan dan harus saling tolong menolong.
Laskar Al Maun adalah salah satu gerakan sosial yang digagas oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kotawaringin Timur dan bertujuan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu. Laskar Al Maun merupakan penerapan dari makna surat Al Ma’un yang menceritakan tentang ancaman terhadap mereka yang tergolong mendustakan agama yakni mereka yang menghardik anak yatim, tidak menolong fakir miskin, riya’ (ingin dipuji dalam shalatnya) serta enggan menolong dengan barang-barang berguna.
B.     Bentuk Kegiatan
Adapun bentuk kegiatan Laskar Al Maun adalah sebagai berikut :
1.    Pendampingan wirausaha
Dalam upaya membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan serta mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah, Laskar Al Maun membuat program sosial pendampingan wirausaha. Pendampingan wirausaha ini ditujukan kepada masyarakat yang kurang mampu, tidak memiliki pekerjaan tetap, serta kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Konsep program tersebut adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan terhadap calon wirausahawan sampai benar-benar siap untuk terjun langsung berwirausaha. Pada awalnya kami menyediakan peralatan (modal) yang didapat dari donator, serta mempersiapkan produk yang akan dijual berdasarkan kesepakatan dengan calon wirausahawan.
2.    Sekolah Gratis
Masa anak-anak/remaja adalah masanya untuk belajar dan belajar. Karena dengan belajar mampu menjadi pribadi yang  lebih baik serta menghindarkan dari kebodohan. Namun pada kenyataanya di masyarakat kita banyak anak-anak/ remaja yang tidak bersekolah karena alasan ekonomi keluarga, hingga memaksa mereka putus sekolah dan  bekerja lebih keras di usia yang masih sangat kecil.
Maka dari itu untuk mengatasi/mengurangi masalah tersebut, Laskar Al Maun membuat program sekolah gratis yang bertujuan untuk menghindarkan generasi muda dari putus sekolah dan menghindarkan generasi muda dari kebodohan dengan  upaya mencarikan orang tua angkat yang bersedia untuk membiayai sekolahnya.  
3.    Pembagian Perlengkapan sekolah
Pembagian perlengkapan sekolah tersebut, ditujukan kepada anak-anak yang bersekolah namun mengalami kesulitan dalam memenuhi perlengkapan sekolahnya. Seperti halnya buku, tas, sepatu dan lain-lain. Banyak dari mereka yang harus bekerja terlebih dahulu untuk memenuhi perlengkapan sekolah tersebut.
Untuk meringankan beban mereka Laskar Al Maun membuat program pembagian perlengkapan sekolah kepada siswa yang kurang mampu agar pelaksanaan sekolahnya bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan, serta memberikan semangat kepada siswa untuk terus bersekolah. Adapun  bentuk bantuan yang diberikan adalah satu set perlengkapan sekolah yang terdiri dari :
a.    1 (satu) lusin buku tulis.
b.    Penggaris
c.    Penghapus
d.    Tas sekolah
e.    Seragam sekolah, sampai sepatu untuk bersekolah.
4.    Bedah Rumah (Perbaikan Rumah)
Bedah Rumah (Perbaikan Rumah) merupakan program kegiatan dari Laskar Al Maun yang selanjutnya. Kegiatan ini ditujukan kepada masyarakat yang kurang mampu dalam memperbaiki rumahnya. Karena masalah ekonomi yang akhirnya menghambat mereka dalam memperbaiki rumahnya. Maka dari itu Laskar Al Maun yang dibantu oleh donatur berupaya meringankan beban mereka dalam bentuk sumbangan materi atau dalam bentuk bahan seperti kayu, seng dan lain-lain sesuai dengan perlengkapan yang dibutuhkan.
5.    Tidak Terduga/lain-lain
Kegiatan tidak terduga/lain-lain ini merupakan suatu kegiatan yang bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun berada selain yang tercantum di atas. Ketika adanya suatu bencana seperti kebakaran, kebanjiran atau hal lainya, Laskar Al Maun akan berupaya dalam membantu korban bencana tersebut. Insya Allah...

Laskar Al Maun membuka kesempatan untuk teman-teman yang ingin berpartisipasi dalam menjalankan dan menyukseskan program-program tersebut dengan menjadi donatur di Laskar Al maun. Bantuan bisa anda kirim di nomor rekening berikut ini :
Nomor rekening         : 6320006689
Nama Bank                : Muammalat
Atas Nama                 : Misbachul Munir
Bantuan dari anda sangat membantu untuk terlaksananya program tersebut. Semoga Allah membalas kebaikan anda dengan berlipat ganda. Amin
Untuk info lebih lanjut silahkan hubungi nomor di bawah ini.

0856 5220 6994 atas nama Munir.

Tanda-tanda Kegagalan di Bulan Ramadhan

TANDA-TANDA KEGAGALAN DI BULAN RAMADHAN

Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka lebar-lebar. Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya. Di bawah ini tanda-tanda kegagalan Ramadhan.

1.  Gampang mengulur shalat fardhu.
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih.” (Maryam: 59).
Menurut Sa’id bin Musayyab, yang dimaksud  meninggalkan shalat ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari.

2.  Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.
Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih.
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (Al-Anbiya:90)
“Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya.” (Hadits Qudsi)
.

3.  Kikir dan rakus pada harta benda.
Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.

4.  Malas membaca Al-Qur’an.
Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur’an.
“Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur’an.” (HR Baihaqi)
Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.


5.  Mudah mengumbar amarah.
Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: “Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah.”
Dalam hadits lain beliau bersabda: “Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

6.  Gemar bicara sia-sia dan dusta.
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)
Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata: “Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia.” “Bicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan.”

7.  Menyia-nyiakan waktu.
Allah berfirman: ‘Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. "Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu’minun: 112-116)
Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

8.  Tidak mencintai kaum dhuafa.
Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.

9.  Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.
Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.
“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)

10.  Sibuk mempersiapkan Lebaran.
Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelah Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati.
Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.

11.  Idul Fitri dianggap hari kebebasan.
Secara harfiah makna Idul Fitri berarti “hari kembali ke fitrah”. Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari “penjara” Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional.